10 Muharram, Bupati Buton Santuni Puluhan Anak Yatim Piatu

51
Bupati Buton, Drs La Bakry MSi saat santuni anak yatim piatu - Doc: Kominfo Buton

BUTON, suryametro.id – Sebanyak 44 anak yatim piatu mendaptkan santunan dari Bupati Buton Drs La Bakry MSi, pada momen kegiatan 10 Muharram 10 Muharram 1443 hijiriah, dalam dalam rangkaian “Pekandeana Ana-Ana Maelu”, di Aula Rujab Bupati Buton, Kamis (19/8/2011)

44 anak yatim piatu itu, berasal dari masing-masing desa dan kelurahan di Kabupaten Buton, mengikuti tradisi yang dimulai dengan membasuh ubun-ubun anak anak yatim, diberikan makan serta memberi di berikan santuanan. Tradisi tersebut mengandung makna mendoakan anak yatim piatu diberi umur panjang, rezki yang halal dan keteguhan iman.

Ritual Pakande Ana-ana Maelu, merupakan tradisi warisan leluhur Buton, yang dilaksanakan pada setiap bulan 10 Muharam. Dimana, bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam, sebab Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Karenanya banyak negeri-negeri Islam memuliakan bulan ini dengan tradisi dan budayanya masing-masing.

Pada kesempatan itu, Bupati Buton bersama Forkopinda dan Perangkat Mesjid Keraton Buton, menggelar tradisi Pakandeana ana-ana maelu atau memberi makan anak yatim piatu. Tradisi tersebut, merupakan syarat makna kemanusiaan yang hadir sejak 6 abad silam atau sekitar tahun 1500-an, sejak islam masuk di Buton.

Dalam sambutannya, Bupati Buton La Bakry mengatakan, tradisi ini memang sudah lama diadakan di Kesultanan Buton dan tahun ini pihaknya memulai dengan rangkaian sederhana.

“Kita berharap, hikmah dari acara tersebut bisa sampai kepada orang tua, yang merasa mampu dan bisa dirasakan langsung anak anak yatim piatu agar diberi umur panjang, rezki yang halal dan keteguhan iman,” jelasnya.

Lanjutnya, pakande ana-anak maelu merupakan tradisi yang sangat mulia dan ini kewajiban yang harus dilaksanakan bersama. Sehingga anak-anak yatim tidak merasa terabaikan dan merasa diperhatikan.

“Ini merupakan tradisi yang harus kita pertahankan,” tuturnya.

Sementara itu, Lakina Agama Mesjid Agung Keraton Buton, Drs HLM Kariu mengatakan, tradisi ini sudah hampir punah, oleh karena itu harus disadari bahwa ini merupakan bentuk perihatinan terhadap anak-anak yatim sangat penting.

“Karena sesungguhnya anak-anak kita ini masih membutuhkan pendekatan dengan orang tuanya tetapi nauzubillah mereka sudah ditinggalkan, kewajiban kita sebagai umat muslim harus betul betul terbuka hati,” katanya.

Lakina Agama juga menyampaikan, atas nama Perangkat Mesjid Agung Keraton Buton meminta kepada Bupati Buton untuk kedepannya lebih dibangkitkan lagi santunan terhadap anak yatim.(Adm)