17 Tahun Tertunda, Ali Mazi Janji Tuntaskan Pembangunan Jembatan Tona

186
Gubernur Sultra Ali Mazi, saat meninjau lokasi pembangunan jembatan Buton-Muna. (dok. for suryametro.id)

KONSISTENSI Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ali Mazi dalam membangun daerah patut di apresiasi. Dengan mengusung tagline pembangunan Gerakan Akselrasi Pembangunan Daratan dan Lautan (Garbarata) menjadi bukti bahwa fokus pembangunannya tak hanya terfokus pada wilayah daratan, tapi merata hingga ke wilayah kepulauan.

Agenda besar yang saat ini tengah menjadi prioritas gubernur dua periode itu adalah rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan dua pulau, yakni Pulau Buton dan Pulau Muna. Proses nya pun sudah sampai pada titik pelaksanaan pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan tersebut.

Teranyar, dalam lawatannya ke Kota Baubau, Sultra, selama beberapa hari, salah satu agendanya adalah meninjau lokasi yang akan menjadi tempat pembangunan jembatan Kelurahan Palabusa, Kecamatan Lea-Lea yang sudah direncanakan sejak tahun 2003 silam, tepatnya saat Ali Mazi baru menjabat sebagai gubernur Sultra di periode pertamanya berpasangan dengan Yusran Silondae.

Salah satu tujuan dibangunnya jembatan penghubung itu adalah untuk memangkas jarak dan waktu antara Pulau Buton dan Pulau Muna yang nantinya akan melintasi Selat Baruta. Selain itu, pembangunan jembatan itu juga tentunya akan berdampak pada distribusi barang dan jasa dalam mendorong peningkatan ekonomi rakyat di dua daerah tersebut.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Ali Mazi kepada sejumlah media mengatakan, untuk proses pembebasan lahan dari pemerintah Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah sudah siap dan tidak ada kendala lagi. Pemerintah juga tengah melakukan evaluasi khususnya persoalan pembebasan lahan dan hanya tinggal menunggu penyelesaian dengan menggunakan Dana Insentif Daerah (DID).

Ali Mazi juga sangat bersyukur, setidaknya di akhir masa jabatannya nanti, Ia bisa menyelesaikan apa yang sudah direncanakan sejak 17 tahun silam. Sehingga dukungan dari seluruh pihak sangat dibutuhkan demi kelancaran pembanguan jembatan Buton-Muna itu. Karena, jika terealisasi tanpa ada kendala sampai selesai pembangunan, akan menjadi ikon baru Sultra yang bisa dibanggakan.

“Ini akan jadi salah satu ikon dunia. Sehingga saya membuat salah satu terobosan untuk membangun Jembatan Tona (Buton-Muna). Nah, Insyaallah, kalau ini betul-betul bisa direalisasikan, disana juga akan bertumbuh ekonomi karena aktifitas kedua daerah ini akan meningkat,” kata Ali Mazi yang didampingi Wali Kota Baubau, AS Tamrin saat melakukan peninjauan lokasi, Sabtu (30/1/2021).

Selain itu, pembangunan Jembatan Tona ini juga akan menyatukan dua daerah menjadi satu. Sehingga kedepannya lagi tidak ada penyebutan suku untuk membedakan masyarakat dari Kepulauan Muna dan Kepulauan Buton.

Optimisme Ali Mazi ternyata juga tidak bertepuk sebelah tangan. Keseriusan Ali Mazi dalam membangun Jembatan Tona di support oleh Pemerintah Pusat, baik dari secara moril maupun finansial. Sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah daerah untuk tidak seriusi pembangunan jembatan itu.

“Saya ingin kita menjadi satu, namanya masyarakat Sulawesi Tenggara. Jadi tidak ada penyebutan lagi antara suku dan suku, Kepulauan Buton dan Kepulauan Muna itu menjadi satu. Oleh karena itu, visi dan misi saya disebut dengan Garbarata yang merupakan akselerasi pembangunan antara kepulauan dan daratan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” tegas pasangan Lukman Abunawas itu.

Selain menjadi penghubung antara dua pulau, pembangunan Jembatan Tona yang rencananya akan dibangun sepanjang 762 meter itu, akan menjadi objek wisata baru. Dengan demikian juga akan tumbuh dengan sendirinya sektor ekonomi baru. Investor juga tidak segan-segan untuk berinvestasi dalam peningkatan pariwisata di dua pulau tersebut.

Ali Mazi juga menegaskan, memang dalam proses pembangunan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sehingga akan berdampak pada lamanya waktu pembangunan. Tapi, kembali Ali Mazi tegaskan bahwa proyek pembangunan tersebut merupakan proyek pemerintah pusat, sehingga penganggarannya juga berasal dari pemerintah pusat.

“Jembatan ini nantinya bukan hanya menjadi jembatan penyeberangan, tetapi juga akan tumbuh ekonomi baru disini karena adanya area wisata yang cukup bagus. Dan Insyaallah ini akan diwujudkan dalam waktu dekat,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Provinsi Sultra, Abdul Rahim dalam kesempatan itu menjelaskan, dalam proses pembangunan jembatan tersebut akan menggunakan tipe spam send rich yang artinya tanpa tiang. Bentangan jembatan diperkirakan mencapat sekitar 762 meter. Olehnya itu, nantinya jika jembatan tersebut jadi, akan menjadi jembatan dengan bentangan terpanjang di Indonesia.

Terkait anggaran pembangunan Jembatan Tona ini, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Baubau itu memperkirakan akan menghabiskan anggaran mencapa Rp3 triliun. Dengan anggaran sebesar itu, tentunya tidak bisa dikucurkan langsung dalam rentan waktu satu tahun. Diperkirakan, jembatan yang renananya akan mulai dibangun di tahun 2022 mendatang itu akan memakan waktu pengerjaan selama 3 tahun.

Untuk luas lahan yang dibutuhkan, diperkirakan mencapai 7 hektar. Jumlah tersebut tentunya terbagi di kedua pulau. 3,5 hektar lahan yang harus disiapkan di Kota Baubau dan 3,5 hektar adalah luas lahan yang harus disiapkan oleh Pemda Buton Tengah.

“Nah, makanya di tahun 2021 ini, kita harus genjot pengadaan lahannya. Karena sisa itu yang akan kita tunggu. Untuk itu, kemarin pada tahun 2020 kami berbagi tugas dari pihak provinsi kami melaksanakan penyusunan analisa dampak lingkungan, terus dari pihak kementerian melakukan kegiatan review design yang Insyaallah akan selesai di 2021 ini,” tukasnya.

Advetorial