Pekandeana Mia-Miana Tana, Tradisi Sakral Masyarakat Waruruma Jelang Musim Panen Jambu Mete

BAUBAU, suryametro.id – Disetiap tahunnya, menjelang musim panen, ungkapan doa kepada sang pencipta dalam bentuk ritual adat “Pekandeana Mia-Miana Tana”, menjadi hal yang sakral dan wajib untuk dilakukan.

Ritual adat yang sudah ada sejak turun temurun ini, dilakukan agar hasil panen nanti bisa melimpah serta terhindar dari gangguan hama perusak tanaman.

“Ini adalah kearifan lokal. Ritual ini mengajarkan kita, bahwasanya kita jangan hanya tau mengambil hasil. Tapi perlu ada timbal baliknya, paling tidak selalu ingat kepada tuhan yang memberikan berkah hasil panen melalui perantara tanah, makanya pekandeana Mia-Miana Tana ini artinya kita memberi makan orang-orang nya tanah,” jelas Lurah Waruruma, Eko, ditemui usai rangakaian ritual usai, Kamis (07/08/2025).

Selain itu, ritual adat ini menjadi ajang silaturrahmi masyarakat Waruruma.

“Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu orang atau kelompok tertentu. Ini kegiatan bersama sehingga melibatkan banyak masyarakat. Kedepan, pemerintah kelurahan dan masyarakat serta tokoh adat, akan bermusyawarah untuk menentukan tanggal pasti pelaksanaan kegiatan ini. Saat ini, jadwal pelaksanaannya tidak sama setiap tahunnya, karena disesuaikan dengan waktu menjelang panen jambu mete,” kata Eko menutup.

Pekandeana Mia-Miana Tana, Tradisi Sakral Masyarakat Waruruma Jelang Musim Panen Jambu Mete. Foto: Sutiana/suryametro.id

Anggota DPRD Kota Baubau, Naslia Alu yang juga merupakan warga Kelurahan Waruruma, mengapresiasi kekompakan masyarakat Waruruma yang masih mempertahankan warisan adat yang diwariskan para leluhur sejak turun temurun.

“Ritual ini sudah ada sejak saya masih kecil dulu. Dan Alhamdulillah, masih terjaga sampai sekarang. Nah di Waruruma ini terkenal hasil panen jambu mete nya, makanya setiap jelang musim panennya, ritual adat ini selalu dilakukan,” ucap Naslia.

Kata Naslia, dana pelaksanaan kegiatan ini bersumber dari hasil swadaya masyarakat Waruruma. Pada kegiatan ini juga digelar acara makan bersama masyarakat dan tamu yang hadir, sehingga rasa kebersamaan dan kekompakan sangat kental terasa.

“Adapun menu yang disajikan memang dipilih makanan lokal dan tradisional sesuai dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat,” ungkap Naslia yang juga menjabat sebagai ketua Komisi III DPRD Kota Baubau.

Penulis: Sutiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top