Ali Mazi Paparkan Rencana Pembangunan RSJPDO Oputa Yi Koo Depan Menkes RI

207 views
Ali Mazi Paparkan Rencana Pembangunan RSJPDO Oputa Yi Koo Depan Menkes RI, Budi Gunadi di Jakarta. Foto: Ary Ardiansyah/Biro ADPIM Sultra.

JAKARTA, suryametro.id – Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) H Ali Mazi SH, secara tegas menyampaikan banyak hal dalam acara Audiensi bersama Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin terkait pembangunan Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah dan Otak (RSJPDO) Oputa Yi Koo Provinsi Sulawesi Tenggara dan pembangunan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (12/04/2022).

Turut hadir mendampingi Ali Mazi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Sulawesi Tenggara Muhammad Ilyas Abibu SE MDM serta Tim Percepatan Pembangunan Rumah Sakit Jantung, Pembuluh Darah dan Otak Oputa Yi Koo Provinsi Sulawesi Tenggara dan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ali Mazi selaku Gubernur Sulawesi Tenggara, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Menkes RI atas kesempatan yang diberikan untuk beraudiensi dan sekaligus memaparkan progres pembangunan Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah dan Otak Oputa Yi Koo Provinsi Sulawesi Tenggara dan pembangunan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Kami berharap semoga agenda yang kita laksanakan pada kesempatan ini, bernilai manfaat dalam mendorong kemajuan daerah Sultra, khususnya, dan secara umum untuk kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta,” ujar Gubernur Ali Mazi.

Salah satu program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Periode 2018-2023 dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018-2023 adalah Pembangunan Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah dan Otak Oputa Yi Koo Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Pembangunan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sultra.

Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah dan Otak Oputa Yi Koo Sultra dibangun di atas lahan seluas 5 hektar, dengan luas bangunan 43.000 M2 dengan konstruksi 17 lantai, dengan total biaya sebesar lebih dari Rp388 Milyar.

Alasan pemberian nama Oputa Yi Koo untuk rumah sakit ini adalah bentuk penghargaan kepada Oputa Yi Koo yang merupakan Pahlawan Nasional yang berasal dari Sultra. Diharapkan rumah sakit ini ke depan, dapat digunakan selain untuk masyarakat lokal Sultra, tetapi juga menjadi rumah sakit rujukan bagi masyarakat, khususnya di Kawasan Timur Indonesia.

Sementara itu, Pembangunan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara, bertujuan untuk lebih memaksimalkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi pasien yang mengalami ganggauan kejiwaan dan pelayanan kesehatan lainnya.

Pembangunan Rumah Sakit Jiwa Sultra, merupakan bentuk pembangunan baru gedung dan pengadaan segala fasilitas pendukung yang lebih reprsentatif, mengingat kondisi bangunan yang sebagian besar sudah mengalami rusak berat, akibat faktor usia dan fasilitas yang ada saat ini dinilai sudah tidak lagi maksimal untuk digunakan.

Rumah sakit tersebut, akan dibangun di atas lahan seluas 13,6 hektar, yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp199 Milyar.

Kedua pembangunan rumah sakit tersebut, adalah salah satu implementasi program prioritas Pemerintah Provinsi Sultra di bidang kesehatan yang dikemas dalam Program Sultra Sehat, demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus untuk mempercepat tercapainya visi pembangunan daerah, yakni terwujudnya Sulawesi Tenggara yang aman, maju, sejahtera dan bermartabat.

Visi dan Misi Gubernur
Di Kementrian Kesehatan saat ini, ada program prioritas pelayanan kesehatan disemua provinsi se-Indonesia, yaitu prioritas pelayanan yang mencakup tujuh pelayanan yaitu, pelayanan jantung dan bedah jantung terbuka, pelayanan otak, pelayanan ibu dan anak, pelayanan ginjal hipertensi, pelayanan penyakit TB paru, pelayanan penyakit infeksi, dan pelayanan penyakit jiwa.

Namun sejak tahun 2018, sejak Gubernur Ali Mazi dilantik prioritas pelayanan jantung sudah menjadi bagian visi dan misinya dengan gagasan yang visioner yaitu membangun Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah dan Otak di Sulawesi Tenggara.

Pembangunan mega proyek dengan bangunan 17 lantai yang kini telah berdiri megah di areal lahan seluas 5 hektar dan luas bangunan 43.000 M2, untuk saat ini dengan capaian proyek 63 persen. Pengerjaannya masih akan dilanjutkan dengan finishing bangunan. Sedangkan dana yang dibutuhkan untuk proses perempungannya adalah Rp400 milyar, termasuk pengadaan awal alat kesehatan, sarana dan prasarana penunjang rumah sakit.

Tahap berikutnya adalah mengurus Ijin Operasional Rumah Sakit setelah Struktur Organisasi Rumah Sakit Khusus Tipe A dibentuk. Selanjutnya menunggu rekomendasi dari Kemendagri tentang Pembentukan Kelembagaan Struktur Organisasi Rumah Sakit Khusus Tipe A. Setelah rekomendasi Kemendagri dikeluarkan, Gubernur Ali Mazi akan membuat Peraturan Gubernur tentang Struktur Organisasi Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh Darah dan Otak Tipe A tersebut.

Struktur rumah sakit ini penting dalam hal untuk; Mengurus Ijin Operasional Rumah Sakit, dan Pengurus Pengampuan Jejaring Nasional Kardiovaskuler (KV), Bedah KV dan Jejaring Otak Nasional.

Untuk Jejaring Kardiovaskuler Nasional di Prov. Sulawesi Tenggara dianggap masih diampu adalah Rumah Sakit Bahteramas. Dengan dibangunnya Rumah Sakit Khusus Jantung ini, Menteri Kesehatan diharapkan dapat mengalihkan pengampuan dari Rumah Sakit Bahteramas ke Rumah Sakit Khusus Jantung yang masih sama, sebagai perangkat daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dengan SK Menteri Kesehatan pengalihan tersebut, maka Rumah Sakit Jantung dan Otak baru bisa diampu oleh Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof Dr dr Mahar Mardjono.

Nama Pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) dianggap layak mendapat penghargaan untuk nama Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh Darah dan Otak Tipe A tersebut.

Semangatnya untuk mengusir penjajah dilakukannya dengan strategi perang gerilya, sebuah strategi perang yang kemudian menginspirasi banyak perjuangan di Nusantara. Strategi perang itulah kemudian yang diadopsi oleh Vietnam dan Korea Utara. Kelihaian strategi itu, kemudian mampu menenggelamkan kapal Belanda di teluk Lawele, Buton.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi juga merupakan sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan termasuk Belanda karena kegigihannya mempertahankan harkat dan martabat bangsa Buton dari intevensi Belanda. Ia bahkan rela mundur dari jabatannya sebagai Sultan Buton untuk berperang melawan Belanda, demi nilai-nilai manusia bangsanya.

Editor: Adhil