Bandara Kemayoran, Saksi Bisu Rangkaian Sejarah Proklamasi RI

22
Dokumentasi Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat. (Star Magazine via Wikimedia Commons).

JAKARTA, suryametro.id – Rangkaian sejarah Proklamasi RI tak bisa dilepaskan dari kedatangan kelompok pemuda menyambut Sukarno dan Mohammad Hatta di Bandara Kemayoran, Jakarta.

Bermula dari kegelisahan tokoh pemuda setelah mengetahui Jepang kalah dalam Perang Dunia II, mereka yang pada masa itu aktif dalam dunia pergerakan tak sabar mendengarkan kabar dari Sukarno dan Hatta yang baru bertemu Jenderal Jepang Hisachi Terauchi di kota Dalat, Vietnam.

Sementara itu pada waktu yang sama di Jakarta, 14 Agustus 1945, M Jusuf Ronodipuro mendapat kabar dari Mochtar Lubis sesama rekannya yang bekerja di Radio Hose soal kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik. Jusuf–yang setelah Indonesia merdeka jadi Kepala Stasiun RRI– adalah seorang reporter yang mendapat perintah meliput kedatangan Sukarno-Hatta di Bandara Kemayoran, Jakarta hari itu.

Namun, sebelum ke Kemayoran, Jusuf mendatangi kelompok pemuda yang berkumpul di Menteng Raya 31 (saat ini dikenal sebagai Gedung Joang 45), Jakarta.

Kepada para pemuda tersebut, Jusuf mengabarkan kekalahan Jepang di Perang Pasifik. Ternyata para pemuda pun sudah mendapatkan informasi tersebut dari Adam Malik yang kala itu bekerja di Kantor Berita DOME. Dan, sejumlah pemuda ada pula yang telah beranjak ke Kemayoran turut menyambut pendaratan Sukarno Hatta.

Saat pesawat yang membawa Sukarno-Hatta mendarat di Kemayoran, Chairul Saleh dkk menunggu di sebuah kebun pisang tak jauh dari landasan. Mereka mendengarkan Bung Karno menyampaikan pidato singkat sesaat setelah mendarat di hadapan anak-anak sekolah dan orang-orang yang datang yang dikerahkan Hookookai dan Gunseikanbu.

“Apabila dulu aku katakan bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga,” demikian sepatah kata Sukarno di hadapan mereka yang menyambut yang diceritakan lagi oleh Mohammad Hatta dalam autobiografinya, Untuk Negeriku, Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Setelah pidato singkat itu selesai, Chairul bersama kawan-kawannya kemudian menghampiri tokoh tua tersebut seraya menyatakan maksud kedatangannya kepada Soekarno. Ia meminta proklamasi disegerakan karena Jepang sudah kalah dalam Perang Pasifik.

“Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon,” ujar Chairul seperti diriwayatkan AM Hanafi dalam Menteng 31: Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996).

AM Hanafi dan Chairul adalah dua dari sejumlah pemuda yang menunggu Sukarno-Hatta mendarat di bandara Kemayoran kala itu. Selain mereka ada pula Asmara Hadi, Sudiro, SK Trimurti, dan Sayuti Melik.

Namun, Sukarno-Hatta tidak menanggapi permintaan Chairul dkk dengan alasan tak ingin membahas soal kemerdekaan di lokasi tersebut. Tak mendapatkan jawaban memuaskan di sana, para pemuda lalu berunding dipimpin Chairul di kawasan Cikini.

Kesimpulannya Chairul dkk melobi kembali Sukarno-Hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok untuk menyegerakan proklamasi tanpa menunggu Jepang.

Demikianlah cuplikan sejarah proklamasi yang berawal dari Bandara Kemayoran tersebut.

Bandara Kemayoran terletak di Jakarta Pusat ini dibangun pada 1934, dan beroperasi secara resmi mulai 8 Juli 1940. Lokasinya berjarak hampir 6 km dari Istana Kepresidenan.

Ini merupakan bandara pertama di Indonesia yang menerima penerbangan internasional. Bandara ini dibangun dan dikelola pemerintah Hindia Belanda hingga masa pendudukan Jepang.

Setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan RI, Bandara Kemayoran berdiri sebagai tonggak perusahaan kebandarudaraan komersial nasional. Indonesia kemudian melahirkan pengelola bandara Indonesia, Angkasa Pura pada dekade 1960-an.

Bandara tersebut sudah tidak beroperasi lagi sejak 1 Juni 1984. Meskipun demikian bentuk bangunan hingga menara ATC-nya masih ada sebagai cagar budaya dan dikelola Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran(PPKK). Lokasi yang dulunya menjadi landasan pacu pesawat kini beralih fungsi menjadi jalan raya, Jalan Benyamin Sueb dan HBR Motik.

Pada 1945 silam, terdapat kebun pisang yang berada tak jauh dari bandara dan merupakan tempat Chairul dkk menunggu kedatangan Sukarno-Hatta. Kini perkebunan tersebut sudah dibabat untuk pembangunan.

Sumber: cnnindonesia.com