Banjir dan Tanah Longsor Landa Konut, IMES Minta Tertibkan Tambang di Sultra

249
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Desa Tapunggaya, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Minggu (11/7/2021). Foto: FB Erwin Usman

KENDARI, suryametro.id – Dampak lingkungan akibat pertambangan kembali terjadi di Sulawesi Tenggara (Sultra). Khususnya yang terjadi baru-baru ini di Desa Tapunggaya, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Kemarin, Minggu (11/7/2021) ditengah euforia laga Final EURO 2020 yang mempertemukan Inggris melawan Italia tiba-tiba saja banjir dan tanah longsor melanda desa tersebut. Sejumlah rumah rusak, termasuk gedung sekolah yang ada di desa tersebut.

“Musim hujan telah datang. Di sekitar pemukiman warga Desa Tapunggaya yang menjadi korban tanah longsor terdapat beberapa perusahaan tambang aktif yang saat ini sedang beroperasi,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Mining dan Energy Studies (IMES), Erwin Usman melalui rilis yang diterima suryametro.id, Senin (12/7/2021).

Tentunya atas kejadian ini rasa duka dan solidaritas serta keprihatinan ditujukan kepada para korban terdampak banjir dan tanah longsor. Erwin berharap para korban tabah dan sabar dalam menghadapi bencana tersebut.

Olehnya itu, Presidium Nasional PENA ’98 ini juga meminta kepada Gubernur Sultra, Ali Mazi dan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin untuk dapat memastikan penanganan tanggap bencana berjalan dengan baik dan optimal terhadap warga yang terdampak.

Pihaknya juga meminta pihak pemerintah dapat mengambil langkah korektif untuk berkoordinasi efektif dengan Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian LHK dan Kementerian ATR/BPN guna dilakukan evaluasi total dan penertiban seluruh tambang di Konut dan Sultra pada umumnya.

“Langkah ini penting diambil untuk memastikan bila musim hujan terus berlangsung, rakyat dan harta bendanya tidak menjadi korban sia-sia. Akibat absennya kebijakan pemihakan pada lingkungan hidup, pelestarian alam, dan keberlanjutan fungsi pelayanan alam. Kini, saatnya untuk melakukan evaluasi yang tegas, konkret dan terukur. Jangan menunggu bencana ekologi yang lebih dasyat terjadi-berulang,” tutupnya.

Penulis : Hariman