Filosofi DOLOMANI, Pakaian Sultan Buton Yang Dipakai Jokowi di HUT RI ke-77

65
Presiden RI Jokowi menggunakan pakaian adat Dolomani, salah satu pakaian Sultan Buton di upacara HUT RI ke-77. Doc. suryametro.id

BAUBAU, suryametro.id – Dolomani merupakan salah satu pakaian kebesaran Sultan saat menghadiri upacara-upacara resmi kesultanan. Pakaian ini dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak, dimana pada pinggiran baju dan kerah baju dihiasi dengan sulaman bermotif bunga rongo.

Selain itu pada sisi kanan dan kiri baju, dilengkapi dengan sulamam renda berupa ornament ake. Begitu pula pada sisi kanan dan kiri celana dolomani yang membentuk strip dari atas ke bawah, dihiasi dengan dengan sulaman bermotif bunga rongo pula.

Pada kopiah sepanjang pinggiran bawah dihiasi dengan motif bakena uwa, pada bagian atas kopiah dihiasi dengan bunga kamba manuru dan pada bagian depan dihiasi dengan kaligrafi dalam bahasa arab berbunyi“ MAULANA” yang berarti pemimpin umat.

Adapun beberapa motif yang disulam dengan benang emas atau perak, menujukan kebesaran dan keagungan yang dimiliki pemimpin akan berkilauan menerangi seantero negeri.

Sulur bunga menghiasi baju dan celana dolomani berupa bunga rong yang merupakan tumbuhan menjalar dari tanah ke pepohonan yang tinggi lalu menjalar kembali ke bawah. Hal ini berarti bahwa, seorang pemimpin yang menjejaki karir dari bawah ke atas suatu saat akan kembali ke bawah lagi karena jabatan adalah amanah dan pada suatu saat kekuasaan atas jabatan itu akan berakhir pula.

Sulaman randa yang bermotif ake pada pada sisi kanan dan kiri baju, menggambarkan dua ekor burung yang satu memandang ke kiri dan satunya ke kanan, mengandung makna filosofis seorang pemimpin senantiasa waspada terhadap bahaya yang mengancam negeri dari manapun datangnya.

Kopiah dolomani yang dihiasi dengan ornament bakena uwa, dimana bakena uwa adalah merupakan buah dari tumbuhan yang sangat indah untuk dipandang namun ketika menyentuhnya akan memimbulkan sensasi gatal. Hal ini menujukkan negeri yang indah nan elok, namun jika ingin dikuasai pihak lain, maka akan memberikan perlawanan dari sang pemimpin dan rakyatnya.

Pada bagian depan kopiah dolomani yang disulam dengan kaligrafi “MAULANA”, menunjukan pemimpin itu adalah sebenar-benarnya pemimpin yang harus melekat sifat-sifat kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi.

Pada bagian atas kopiah dolomani, terdapat sulaman kamba manuru yang merupakan nama bunga yang dalam bahasa setempat (Wolio), “kamba” berarti bunga dan “manuru” berarti “sejahtera” yang mengandung filosofi bahwa seorang pemimpin memiliki tugas utama untuk mensejahterakan rakyatnya.

Tata Cara Mengenakan Dolomani

Dolomani merupakan nama dari pakaian Sultan Buton yang terdiri dari baju, celana, sarung dan kopiah.

Dalam mengenakan pakaian ini, dilengkapi dengan kotango (baju dalaman), sulepe (ikat pinggang), ewanga (keris atau badik) dan katuko (tongkat).

Adapun tata cara mengenakannya adalah sebagai berikut:
1. Mengenakan celana dolomani sebagaimana mengenakan celana umumnya
2. Mengenakan kotango sebagaimana umumnya mengenakan baju dalaman
3. Mengenakan sarung hingga lutut di atas celana dan kotango
4. Setelah mengenakan sarung maka pinggang diikat dengan sulepe (ikat pinggang)
5. Ewanga (keris atau badik) dimasukan ke dalam sarung yang berada pada sisi kiri pengguna hingga hulu ewanga terlihat mengarah ke depan
6. Baju dolomani dikenakan sebagaimana mengenakan baju umumnya
7. Kopiah dikenakan sebagaimana umunya mengenakan kopiah, dimana sulalam emas atau perak berada tepat di kening yang mengenaka
8. Tongkat dipegang dengan tangan kanan pada hulunya sebagaimana memegang tongkat pada umumnya.

Editor: Adhil