Gugus Tugas Covid Bantah Guru di Baubau Meninggal Karena Vaksin

782
Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kota Baubau saat menggelar konferensi pers, meninggalnya guru usai mengikuti vaksin. (Foto: La Ode Muh. Abiddin)

BAUBAU, suryametro.id – La Hinu (59) seorang guru di Kota Baubau, dikabarkan meninggal dunia usai mengikuti program vaksinasi Covid-19, yang digelar Dinas Kesehatan, Kamis (20/5/2021). Namun Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kota Baubau, memastikan meninggalnya pasien tersebut bukan akibat vaksinasi.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kota Baubau, dr Lukman mengatakan, pasien memang memiliki riwayat penyakit gula dan penyakit asma.

Dikatakan, pasien tersebut sebelumnya telah menjalani prosedur vaksinasi, mulai dari screaning, pengambilan data, menandatangani persetujuan pemberian vaksinasi, dan pos pasca vaksinasi untuk dilakukan pemantauan 20-30 menit, namun setelah itu tidak ada kejadian ikutan yang dilaporkan.

Dijelaskan, jika kejadian ikutan itu merupakan hal yang berat atau terjadi syok anafilaktik sebagai bagian dari pemberian vaksin, itu biasa terjadi pada menit awal dibawah 30 menit, itulah kenapa pasien setelah pemberian vaksin diawasi sampai 30 menit di meja ke empat.

“Jadi dari data-data yang ada, kami yakini bahwa kejadian tersebut tidak terkait dengan pemberian vaksin Covid-19,” ungkapnya, Kamis (20/5/2021).

Dr Lukman berharap, masyarakat tetap antusias dan tidak takut untuk di vaksin, agar herd immunity atau kekebalan komunitas dapat tercapai.

Ia menambahkan, vaksin yang diberikan kepada pasien adalah vaksin sinovac dan ini tahap pertama dan tentunya, semua penerima vaksin telah menandatangani persetujuan untuk dilakukan vaksinasi.

Ia menuturkan, pemberian vaksin diperbolehkan untuk penderita penyakit gula, jika kadar gulanya stabil atau ada laporan HbA1c dari pasien.

Saat itu pasien ketika di screaning, melaporkan bahwa kondisi gulanya stabil, akan tetapi sebelum dibawa ke rumah sakit, kadar gulanya naik hingga 400-an.

“Kita tidak bisa memastikan penyebab kematian, tapi kita yakini bahwa data yang ada, itu menunjukan bahwa hal ini bukan syok anafilaktik,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Muh. Abiddin