Harmoko dan Kenangan ‘Menurut Petunjuk Bapak Presiden’

24
Pada era Orde Baru berkuasa, Harmoko (kanan) dikenal sebagai tangan kanan Presiden kedua RI Soeharto (kiri). AFP PHOTO / AGUS LOLONG

JAKARTA, suryametro.id – Menteri Peneranan era Orde Baru, Harmoko meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Minggu (4/7) malam.

Kepala RSPAD Letjen TNI Albertus Budi Sulistya saat dikonfirmasi mengatakan almarhum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 20.22 WIB.

Semasa hidupnya, Harmoko yang mengawali karier sebagai jurnalis itu sempat dikenal sebagai tangan kanan penguasa Orde Baru, Soeharto. Pria kelahiran Nganjuk pada 7 Februari 1939 ini menjadi kuli tinta pada dekade 1960-1970an.

Merujuk dari berbagai sumber, almarhum yang bernama lengkap Harun Muhammad Koharbin Asmoprawiroitu meniti karier jurnalistiknya dari harian Merdeka di Jakarta selepas lulus sekolah.

Bukan hanya sebagai wartawan, ia pun dikenal sebagai pembuat karikatur di harian dan majalah tersebut. Inisialnya dalam setiap karya yang diterbitkan adalah Mok.

Selepas dari Merdeka, Harmoko pula pernah bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata lalu Harian API, menjabat sebagai pemimpin redaksi di media berbahasa Jawa, Merdiko, lalu mengasuh harian Mimbar Kita.

Salah satu warisan Harmoko di bidang jurnalisme bagi Indonesia adalah harian Pos Kota yang didirikannya bersama sejumlah koleganya pada dekade 1970an silam. Harian itu dikenal karena menampilkan berita-berita lokal Jakarta dan sekitarnya terutama soal kriminalitas, masyarakat, olahraga, dan pesohor.

Ketua Umum Golkar, Menteri Penerangan Tiga Periode Kabinet Orba

Kiprahnya bersama partai politik sudah berlangsung sejak dekade 1970an. Dia tercatat malang melintang bersama tim media massa Golkar pada dekade itu, lalu naik pangkat jadi elite partai pada dekade 1980 hingga memimpinnya sebagai Ketua Umum (1993-1998).

Kiprah Harmoko di dunia jurnalistik pun mentereng secara keorganisasian pada dekade 1970-1980an. Berawal dari memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta, dia kemudian memimpin organisasi tunggal jurnalis di masa Orde Baru tersebut (1973-1983).

Seiring kiprahnya di puncak PWI itu dia pun merupakan pengurus Serikat Grafika Pers, Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Penerbit Surat Kabar (SPS), Wakil Ketua Konfederasi Wartawan ASEAN, anggota Dewan Pers, dan anggota Badan Sensor Film.

Dia pun pernah menjadi salah satu ketua di Komite Olahraga Nasional (KONI) pusat (1978-1983), dan memimpin Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) sebagai ketua umum (1986-1998).

Di kancah politik, selain bersama Golkar, Harmoko sudah merasakan kursi perwakilan sejak 1977, hingga akhirnya didapuk Soeharto yang kala itu masih mencengkeram kuat Indonesia bersama Orba untuk menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988).

Kiprah Harmoko sebagai menteri penerangan itu cukup panjang sebelum berakhir ketika dia menjadi Ketua DPR/MPR pada 1997 silam. Sebagai Menteri Penerangan, Harmoko merupakan ‘kepanjangan tangan’ Presiden Soeharto melakukan pembredelan atas media-media masa dengan alasan demi menjaga stabilitas negara.

Beberapa di antara yang pernah kena ‘tangan dingin’ Harmoko adalah surat kabar Sinar Harapan, majalah Tempo, tabloid Detik, dan majalah Editor.

Semasa menjabat sebagai Menteri Penerangan, Harmoko adalah pencetus gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) yang disiarkan televisi nasional, TVRI.

Dia yang populer dengan rambut belah kiri lurus nan klimis itu memiliki ciri khas tersendiri selama menjadi Menteri Penerangan.

Selama Orde Baru, di mana stasiun televisi negara TVRI menjadi saluran tunggal kala itu, Harmoko selalu tampil di layar televisi untuk menyampaikan pengumuman dari pemerintah.

Kalimat pembuka yang identik dengan Harmoko adalah, ‘Menurut petunjuk Bapak Presiden’. Kalimat itu menjadi ciri khas yang diingat orang-orang yang tumbuh pada masa Orde Baru, seperti mengingat Soeharto dengan kata ‘daripada’.

Sumber: cnnindonesia.com