
PASARWAJO, suryametro.id – Dalam rangka mendukung upaya percepatan pencegahan dan dan penurunan stunting di Kabupaten Buton, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar rembuk stunting tahun 2021 di Aula Kantor Bupati Buton, Takawa Pasarwajo, Senin (10/5/2021)
Pada kesempatan itu, dibuka secara langsung Wakil Bupati Buton Iis Elianti, yang juga dihadiri sejumlah Kepala Organisasi Peragkat Daerah (OPD) baik yang terkabung langsung dalam tim Penurunan dan pencegahan stunting Kabupaten Buton.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Buton Iis Elianti mengatakan, pemerintah daerah berperan dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara yang utuh, serta dapat menumbuhkan ekonomi yang bersifat ilmiah menjadi nasional. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang maksimal.
Pada tahun 2045 yang akan datang, anak-anak di Buton yang masih usia dini akan memasuki usia produktif. Apabila pihaknya tidak mempersiapkan perhatian, terhadap masalah stunting tersebut, bagaimana mungkin dapat melakukan visi Indonesia Emas di tahun 2045.
“Saya meminta kepada seluruh sektor dan yang terkait, terhadap penanganan stunting di Kabupaten Buton agar serius dalam penanganan pencegahannya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Buton, Ahmad Mulya, yang juga Ketua Koordinator pencegahan penanganan stunting di Kabupaten Buton mengatakan, melalui konvergensi program stunting telah memberikan hasil yang cukup baik.
Berdasarkan data yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Buton, yang telah dianalisis situasi sebagai aksi satu beberapa bulan yang lalu, menunjukkan data stunting 2019 sebesar 27,07 persen dan pada tahun 2020 menjadi 22,31 persen.
Dalam kurung waktu dua tahun terakhir cenderung mengalami penurunan 4,75 persen. Begitupula proporsi saham pendek mengalami penurunan dari 850 balita atau 37 persen menjadi 551 balita atau 27 persen.
“Pencapaian itu tentunya, berkat adanya konvergensi program di semua sektor,” jelasnya.
Lanjutnya, konvergensi percepatan pencegahan stunting tersebut, merupakan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan bersama-sama mensasar kelompok sasaran prioritas yang tinggal di desa untuk mencegah stunting.
Penyelenggaraan intervensi, baik gizi spesifik maupun gizi sensitif, secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan stunting.(Adm)

