Jelang Setahun Kematian Yeremia dan Trauma Pengungsi Papua

31
Ilustrasi. Papua adalah wilayah paling timur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

JAKARTA, suryametro.id – Menjelang satu tahun kematian Pendeta Yeremia Zanambani yang tewas setelah ditembak di Distrik Hitapida, Intan Jaya 19 September 2020, Dian Maria Danomira salah satu aktivis muda dan pemerhati budaya Papua mengenangnya dengan sedih.

Dina memang belum pernah bertemu dengan Yeremia secara langsung. Namun, saat ia mendengar kematian sang pendeta, hatinya rontok. Ia sangat sedih, dilema, dan depresi.

“Banyak yang merasakan hal-hal seperti saya terutama anak-anak muda Papua, tong (kita) anak Papua sangat berpegang teguh dengan kitabnya, tokoh-tokoh yang ada di gereja,” kata Dina dalam dialog ‘Sa Pu Suara Mengenang Pendeta Yeremia Zanambani’ yang digelar di Twitter Spaces, Kamis (16/9) malam.

Dina mengklaim konflik yang terjadi dan melibatkan aparat militer membuat dirinya dan juga anak-anak muda Papua lainnya tak bisa percaya pada sistem pemerintahan apapun selain gereja. Tapi nahas, pembunuhan juga terjadi di gereja.

“Kepercayaan yang tong sudah bangun, tong sudah tidak bisa percaya ke sistem pemerintahan yang lain selain gereja di sini,” tutur Dina.

Perlakuan tidak hormat juga dilakukan kepada pendeta lain, Benny Giay yang dibatasi dan ditahan di pintu pagar kantor DPR Papua, Jayapura saat hendak melakukan doa dan renungan bersama terkait situasi Papua saat ini beberapa waktu lalu.

Bagi orang Papua, kata Dina, pendeta adalah panutan (role model) yang membangun komunitas besar di bumi Cenderawasih itu.

“Kalau mereka sendiri dapat dibikin tidak adil pasti kita marah sekali,” ujarnya.

Menurut Dina, perilaku aparat terhadap gereja dan berbagai peristiwa kekerasan memicu rasa trauma dalam diri masyarakat di Papua.

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak masyarakat Papua yang mengungsi. Peristiwa semacam ini bisa menimbulkan trauma bukan saja bagi generasi sekarang, melainkan akan berlangsung secara turun temurun.

“Itu bisa menjadi trauma yang bukan hanya terjadi di masa kini, tapi akan turun temurun jadi trauma yang turun dari generasi ke geenrasi, itu intergenerational trauma,” ujarnya.

Efek Domino Kematian Yeremia
Seperti halnya Dina, aktivis pembela hak asasi manusia (HAM) Veronica Koman juga belum pernah bertemu langsung dengan sosok Yeremia. Namun, berdasarkan percakapan yang ia lakukan dengan salah satu penduduk, Veronica mengklaim kasus pembunuhan Yeremia menjadi titik balik bagi masyarakat Papua.

Veronica mengungkapkan, Yeremia merupakan pendeta yang sangat dihormati. Sebab, bukan saja sebagai tokoh agama, Yeremia emrupakan pendeta pertama kali yang membawa terjemahan Al Kitab.

“Pendeta Yeremia itu yang membawa translate Al Kitab pertama kali, jadi dia itu kayak pendetanya pendeta. Pendeta yang kasta tertinggi lah. Itu dibunuh,” kata Veronica dalam forum yang sama.

Sebelum Yeremia tewas, saat tentara melakukan operasi penyisiran ke kawasan penduduk, gereja bisa meminta masyarakat tenang dan berlindung di gereja.

Setelah pendeta itu tewas tertembak, terjadi pengungsian besar-besaran di Papua, baik di Intan Jaya maupun daerah lainnya dan gereja tidak berhasil menenangkan penduduk.

Menurut Veronica, kasus pembunuhan itu menjadi pesan bagi penduduk Papua bahwa seorang pendeta pun tidak mendapatkan keamanan. Akhirnya, puluhan ribu orang berbondong-bondong mengungsi.

“Ketika pendeta bilang tenang-tenang tetap di tempat gereja jamin, itu sudah jadi tidak berlaku karena pendeta Yeremia dibunuh. Jadi efek dominonya itu besar sekali,” kata Vero.

Sementara itu, Aktivis Papua Ambrosius Mulait menyebut saat ini masyarakat Papua mengalami dilema dan berharap gereja menjadi benteng terakhir yang melindungi mereka di tengah konflik bersenjata.

“Seharusnya gereja yang harus bersuara dan melindungi kami, semacam itu. Ya jadi dilema lah orang Papua,” ucap Ambrosius.

Harapan Rekonsiliasi
Sementara puluhan ribu orang Papua mengungsi dan mengalami trauma, Dina selaku aktivis muda di Papua berharap agar terjadi rekonsiliasi atau pemulihan hubungan antara masyarakat di wilayah paling timur Indonesia itu dengan pihak yang bertanggungjawab atas kekerasan dan pelanggaran HAM, yakni aparat.

Menurutnya, rekonsiliasi itu dapat membantu menyembuhkan trauma yang berlangsung turun temurun.

“Menurut saya masih ada pendekatan untuk menjawab solusi yang ada di Papua, yaitu rekonsiliasi antara pemerintah dengan orang-orang Papua,” tutur Dina.

Meski begitu, Dina menduga pemerintah Indonesia belum siap melakukan rekonsilasi. Sebab, dalam proses itu, berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Papua diungkit kembali.

“Saya rasa pemerintah Indonesia sendiri belum siap untuk menanggung itu, kesalahan mereka sendiri,” ujar Dina.

Sumber: CNNIndonesia.com