Kenapa Rusia Berambisi Rebut Chernobyl dari Ukraina?

34
Pasukan Ukraina saat latihan perang di Chernobyl. (REUTERS/GLEB GARANICH)

JAKARTA, suryametro.id – Pasukan Ukraina dan Rusia bertempur untuk menguasai reaktor nuklir Chernobyl, lokasi yang pernah tercatat sebagai kecelakaan nuklir terburuk di dunia.

Pertempuran kedua pasukan itu diungkap Presiden Ukraina,Presiden Ukraina, Volodymir Zelensky.

“Pasukan pertahanan kami mempertaruhkan hidup mereka sehingga tragedi 1986 (nuklir meledak) tak akan terulang,” ujar Zelensky di Twitter yang dikutip Reuters, Kamis (24/2).

Kota itu bahkan dinilai tak bisa dihuni lantaran masih mengandung radioaktif yang berbahaya.

Lantas, mengapa pasukan Ukraina sangat berambisi merebut Chernobyl dari Ukraina?

Jawabannya yakni lokasi kota itu sendiri atau posisi geografi. Chernobyl menjadi rute terpendek jika menempuh perjalanan dari Belarus ke ibu kota Ukraina, Kiev. Dengan demikian, kota ini menjadi garis serangan yang masuk akal bagi Rusia untuk menginvasi Ukraina.

“Itu adalah rute tercepat dari A ke B,” kata Acton, merujuk pada penggambaran lokasi asal ke tujuan.Menurut pengamat militer Barat dari Carnegie Endowment for International Peace, James Acton, Rusia hanya menggunakan rute invasi tercepat dari Belarus ke Kiev.

Sementara itu, mantan staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jack Keane, menyatakan hal serupa. Chernobyl memang terletak di rute terpendek dari Belarus ke Kiev meski tak ada signifikansi militer. Namun, rute ini menjadi target strategi Rusia untuk menggulingkan pemerintah Ukraina.

Keane menyebut rute ini sebagai salah satu dari empat sumbu yang digunakan pasukan Rusia untuk menyerang Ukraina.

Selain soal jalur tercepat, menguasai Chernobyl juga disebut bagian rencana Rusia. Salah satu pejabat Ukraina mengatakan, kota itu sudah dikepung pasukan Rusia, namun belum ada konfirmasi lebih lanjut.

Menurut Acton perebutan Chernobyl bukan untuk melindungi dari dampak kerusakan lebih lanjut, mengingat ada empat pembangkit listrik tenaga nuklir aktif Ukraina yang memiliki lebih besar dari Chernobyl.

“Jelas kecelakaan di Chernobyl akan menjadi masalah besar. Tapi justru karena zona eksklusi, itu mungkin tidak akan terlalu banyak menimpa warga sipil Ukraina,” kata Acton.

Diketahui, reaktor keempat di Chernobyl, yang berada di 108 kilometer Kiev, meledak pada 1986 saat gagal uji coba keamanan. Saat itu Chernobyl masih menjadi bagian Uni Soviet. Imbas insiden ini puluhan ribu orang meninggal.

Zat semacam Strontium radioaktif, cesium dan plutonium menyebar ke Ukraina, Belarus, beberapa wilayah Rusia dan Eropa.

Enam bulan kemudian penutup darurat atau sarkofagus dibangun untuk menutupi reaktor yang rusak dan melindungi kawasan sekitar dari radiasi.

Pada 2016 lalu, kubah pengaman baru Chernobyl dipindah di atas sarkofagus tua.

Adapun untuk reaktor nuklir Ukraina lain tak berada di zona ekslusi itu, dan mengandung bahan bakar nuklir yang memiliki lebih banyak radioaktif.

“Risiko pertempuran di sekitar lokasi itu lebih tinggi,” kata dia.

Namun, pengawas nuklir Perserikatan BAngsa-Bangsa mengatakan empat pembangkit listrik nuklir ukraina beroperasi dengan aman. Selain itu, ia juga menilai tak ada penghancuran sisa limbah lain dan fasilitas lain di Chernobyl.

Pertempuran Ukraina dan Rusia terjadi usai Presiden Vladimir Putin mengumumkan invasi ke wilayah Donbas, Ukraina timur pada Kamis (24/2) dini hari.

Tak lama setelah itu terjadi rentetan ledakan. Pasukan Moskow tampak terus membombardir, sementara Kiev berusaha terus melawan.

Sumber: CNNIndonesia.com