Kisah Amrun, Loper Koran yang Ubah Kampung “Bodoh” Jadi Kampung Pendidikan Hingga Dirikan Sekolah Gratis

151 views
Proses belajar mengajar murid madrasah nafi’u di ruangan kelas yang hanya terbuat dari alang-alang seadanya. Foto: Doc. suryametro.id

“Memulai Tidak Harus Menyuruh atau Memerintah, Tetapi Harus Dimulai dari Diri dan Dilakukan dengan Ikhlas,” Amrun.

Kalimat tersebut merupakan kalimat pertama terucap dan menjadi semangat awal bagi pria yang bernama Amrun. Ayah empat anak yang tinggal di Dusun Wapei, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

Penulis : Muh. Ilor Syamsuddin – suryametro.id

Hari itu, waktu menunjukan pukul 16.30 Wita, matahari tak lama lagi akan meinggalkan senja dan berganti dengan cahaya bulan. Tiba-tiba, datang seorang pria berwajah polos di kediaman kami. Namanya Amrun, dia tak sendiri datang, tetapi didampingi seorang wanita berhijab yang setelah diperkenalkan bernama Juhartin yang tak lain adalah istrinya.

Amrun lahir di Telawek, Lombok Tengah 40 Tahun silam, sedangkan istrinya Juhartin adalah warga Dusun Wapei, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Pertemuan keduanya bermula ketika Amrun memilih kembali ke Kota Baubau, Sulawesi Tenggara setelah bertahun-tahun merantau dan bekerja sebagai pekerja serabutan.

Singkat cerita, selama merantau di Kota Baubau, Amrun memulai perjalanan hidupnya dengan bekerja sebagai loper koran di salah satu media lokal di Kota Baubau. Pekerjaan inilah yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan Juhartin sang pujaan hati yang kemudian di nikahinya. Percakapan kami mulai dengan di temani teh manis dan pisang goreng yang di sajikan secara sederhana.

Cerita berawal saat Amrun yang merupakan anak pertama harus rela menjadi tulang punggung keluarga. Untuk menghidupi dan menyekolahkan keenam adiknya yang saat itu masih kecil. Sepeninggal sang ayah, Amrun diberi beban untuk bertanggungjawab terhadap adik-adiknya, menjadi sosok kakak tertua sekaligus ayah, ini tentunya bukan perkara yang mudah. Amrun akhirnya harus malang melintang di negeri orang untuk merantau meninggalkan kampung halamannya.

Amrun sadar bahwa gaji seorang loper koran tidak cukup banyak untuk dijadikan penyokong hidup keluarga Amrun, namun itu tak masalah baginya selama rasa syukur masih terus terucap. Suatu ketika, Amrun kehabisan bahan bakar setelah berkeliling mengecer koran. Ia pun berhenti di sebuah kios kecil untuk membeli sebotol bensin. Seorang anak berusia 10-11 tahun yang melayaninya saat membeli bensin.

“Saya bingung, ini jam sekolah harusnya anak ini bersekolah mendapat pendidikan yang layak. Bukan untuk bekerja mencari nafkah atau berada di rumah,” kata Amrun dalam hati waktu itu.

Proses belajar mengajar yang dilakukan amrun bersama murid-murid. Foto: Doc. suryametro.id

Merasa penasaran, Amrun akhirnya memilih bertanya kepada anak tersebut tentang kegiatannya sehari-harinya. Alangkah terkejutnya, mendengar jawaban anak tersebut yang mengaku tidak pernah merasakan dunia pendidikan karena tidak memiliki biaya dan harus membantu orang tua untuk mencari nafkah.

Karena peduli, Amrun kembali memberanikan diri bertanya langsung ke keluarga anak tersebut untuk mendapat jawaban pasti. Setelah sempat berbincang dengan keluarga anak tersebut, tak sadar air mata Amrun menetes setelah mengetahui ternyata lima kakak ber adik penjaga warung termasuk ke dua orang tuanya juga rupanya tidak pernah merasakan dunia pendidikan.

Dari cerita itulah hati Amrun yang akhirnya tergugah. Ia kemudian bertekad untuk membangun wadah pendidikan yang di harapkan mampu menjawab harapan warga, khususnya Dusun Wapei. Dusun Wapei, yang menjadi tempat tinggal Amrun setelah menikah memang di kenal sebagai dusun terbelakang dibanding dusun lain di Kabupaten Buton. Nama Dusun Wapei dalam bahasa di daerah itu berarti “bodoh” atau “terbelakang”.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Amrun, ternyata 80-90 persen warga di dusun tersebut tidak bersekolah bahkan kebanyakan anak-anak maupun orang dewasa di dusun tersebut, buta aksara. Kondisi itu diakibatkan karena tidak adanya sekolah yang dibangun oleh pemerintah setempat, kalaupun ada anak-anak itu harus berjalan kaki ke ibu kota kecamatan yang jaraknyanya cukup jauh dari dusun mereka.

“Kondisi ini yang membuat anak-anak di desa itu putus sekolah bahkan tidak bisa bersekolah,” papar Amrun.

Setelah mendapatkan fakta tersebut, Amrun sempat teringat penderitaannya bersama adik-adiknya yang juga mengalami kesulitan untuk mengenyam dunia pendidikan dulu. Akhirnya, Amrun bertekad untuk mendirikan tempat belajar-mengajar dan membangun sekolah di Dusun Wapei. Untuk mewujudkan impiannya, Amrun kemudian mengundang para tokoh masyarakat guna membicarakan cita-cita yang menjadi harapannya dan harapan anak-anak yang putus sekolah.

Ternyata niat Amrun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam pertemuan dengan para tokoh masyarakat, Amrun hanya dianggap sebagai seorang pemimpi. Karena mereka tidak yakin dengan apa yang disampaikan oleh Amrun. Alasannya, Amrun hanya seorang perantau yang kebetulan menikahi wanita warga Dusun Wa Pei. Terlebih lagi, Amrun terlahir di tengah keluarga tidak mampu, yang saat itu sehari-harinya bekerja sebagai loper koran.

“Meski dianggap sebagai pemimpi dan mendapat penolakan, saya tidak putus asa. Istri saya terus memberikan support, sehingga itulah yang kembali menjadikan semangat baru untuk mengapai cita-cita yang sudah saya impikan,” ujarnya.

Foto bersama murid dan guru serta Dinas Pendidikan setempat. Foto: Doc. suryametro.id

Tak patah arang, walaupun tidak mendapat respon positif dari para tokoh masyarakat, Amrun terus berjuang. Dengan melakukan langkah-langkah kecil, sehingga di tahun 2009 akhirnya Amrun berhasil membuat kelompok belajar, baik untuk anak-anak putus sekolah maupun anak-anak yang tidak sempat mendapat pengalaman pendidikan di bangku sekolah di dusun tersebut.

Melihat kegigihan Amrun, para tokoh-tokoh masyarakat di dusun tersebut akhirnya memberikan dukungan. Dari modal dukungan para tokoh masyarakat itulah, akhirnya Amrun berhasil membangun tempat belajar-mengajar dengan satu petak ruangan belajar mengajar meski atap dan dindinganya baru terbuat dari alang-alang. Amrun kemudian membentuk kelompok belajar dan rupanya mendapat respon dari anak-anak bahkan orang dewasa, mereka berlomba untuk mengambil kesempatan belajar membaca dan menulis ditempat itu.

Kondisi itu dibuktikan dengan banyaknya dari warga setempat yang setiap harinya terlihat datang untuk belajar membaca dan menulis. Walaupun setiap harinya mereka hanya menyalin kembali tulisan-tulisan dari sisa-sisa koran bekas yang dibawa Amrun sewaktu bekerja sebagai loper koran. Itu juga menjadi bahan bacaan anak-anak dan orang dewasa ditempat itu.

“Dalam perjalanannya saya kemudian diangkat oleh Kantor Kementerian Agama setempat, sabagai tenaga guru honorer di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Buton,” kata Amrun yang sesekali meneguk segelas teh yang masih terasa panas.

Sekan mendapatkan amunisi baru, Amrun kemudian merehab bilik ruangan kelas yang awalnya dari alang-alang diganti dengan bahan dari anyaman bambu dan atapnya dari daun nipa. Uang yang dikumpulkan dari tabungan saat menjadi loper koran dan gaji sebagai honorer sebesar Rp250 ribu rupiah per bulan kemudian digunakan untuk membeli buku-buku bacaaan layaknya sekolah umum lainnya dengan cara di cicil.

Perlahan tapi pasti, meski sempat mendapat penolakan dan dianggap pemimpi, niat Amrun untuk mendirikan sekolah akhirnya terwujud di tahun 2009 itu. Sekolah itu ia beri nama Madrasyah Ibtidaiyah Nafi’u. Nama sekolah tersebut diambil dari bahasa arab Nafiu’n atau yang berarti Harapan. Madrasah Ibtidaiyah Nafi’u akhirnya benar-benar menjadi harapan baru yang lahir di tengah-tengah keputusasaan pendidikan bagi warga di Dusun Wapei.

Tercatat jumlah murid yang mendaftar di Madrasah Ibtidaiyah Nafi’u terus mengalami peningkatan. Semula di tahun 2009 sejak sekolah tersebut berdiri, jumlah murid yang mendaftar hanya mencapai 10 sampai 15 orang. Tahun berganti tahun jumlah murid terus meningkat, sehingga ditahun 2021 Madrasah Ibtidaiyah tersebut sudah mencetak 39 alumni. Murid-murid yang mendaftarkan diri sebagai peserta didik sama sekali tidak dipungut biaya dalam hal apapun alias gratis.

“Tenaga guru pengajarnya sudah mencapai 7 orang. Mereka berasal dari warga Dusun Wapei yang sebelumnya pernah bersekolah sampai tingkat sekolah menegah atas dan dalam memberikan jasanya, guru-guru itu tidak mengharapkan gaji maupun imbalan lain,” ungkapnya.

Tidak hanya berhasil membangun harapan baru dunia pendidikan di daerah itu, akan tetapi Amrun juga akhirnya merubah Dusun Wapei yang dulunya di kenal sebagai daerah yang di huni oleh orang-orang terbelakang dan identik dengan kebodohan, kini telah mencetak anak-anak berpendidikan sebagai bibit baru generasi bangsa. Hal itu berhasil diwujudkan Amrun, sehingga, warga dusun bersepakat merubah nama dusun tersebut yang sebelumnya bernama Dusun Wapei atau yang berarti keterbelakangan dan kebodohan menjadi Dusun Wapeu yang berarti harapan dan kecerdasaan. (*)