Kisah Dayat, Bocah 10 Tahun di Baubau Hidup Tanpa Orang Tua Berjualan Roti Tetangga untuk Bertahan Hidup

599
Fatan Hidayat, sejak kecil dirinya sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya. Ibunya meninggal usai melahirkan Dayat, sementara sang ayah pergi entah kemana. Foto: Adhil/suryametro.id

Fatan Hidayat atau lebih akrab dipanggil Dayat, seorang bocah tangguh dari Kelurahan Kalia-Lia, Kecamatan Lea-Lea, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sejak lahir, dia hidup tanpa kedua orang tuanya. Sang ibu tercinta meninggal usai melahirkan Dayat, sementara sang ayah pergi entah kemana.

Penulis: Adhil – suryametro.id

Dayat kini berusia 10 tahun. Meskipun dirinya merupakan anak ke lima dari lima bersaudara, namun tidak ada satupun saudara kandungnya yang mengajaknya tinggal bersama. Diusianya yang masih sangat dini, Dayat hanya tinggal bersama paman dan bibi tercintanya yang sudah dianggap sebagai orang tua kandungnya sendiri.

Meski begitu, Dayat tidak pernah sekalipun mengeluh. Bahkan untuk membantu pamannya yang merupakan seorang pekerja dilokasi pembutan batu bata memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, setiap hari sepulang sekolah Dayat berkeliling kampung menjajakkan roti milik tetangganya.

Dayat, berjualan roti tetangga untuk bantu ekonomi keluarga angkatnya. Foto: Adhil/suryametro.id

Dalam sehari, Dayat biasa diberi upah mulai dari Rp7.000 hingga Rp10.000 tergantung dari jumlah rotinya yang terjual. Meski hasilnya tidak seberapa, namun Dayat sangat rajin bahkan tidak pernah seharipun ia lewatkan untuk berjualan roti.

“Kalau sudah pulang jualan, uangku saya kasi sama mamaku (Bibinya). Kadang mamaku dia kasi saya juga untuk saya belikan kue,” kata Dayat dengan polosnya saat dijumpai di rumahnya, Minggu (25/07/2021).

Tidak hanya berkeliling menjual roti, diwaktu senggangnya Dayat sering membantu petani rumput laut yang ada didekat tempat tinggalnya. Dayat sering diberi upah Rp10.000 setelah membantu mengikat bibit rumput laut. Karena telah terbiasa, mengikat bibit rumput laut bukan hal yang sulit baginya.

Tidak ada kata mengeluh, meski hanya tinggal bersama orang tua angkat dan saudara sepupunya di rumah gubuk sederhana dengan keterbatasan ekonomi, Dayat selalu terlihat ceriah saat bermain bersama anak seusianya.

“Uangku saya mau tabung supaya bisa sekolah. Saya mau sekolah tinggi-tinggi,” kata Dayat.

Untuk mendapatkan uang tambahan, Dayat juga rajin membantu petani rumput laut mengikat bibit rumput laut. Foto: Adhil/suryametro.id

Tidak hanya berjualan roti dan mengikat bibit rumput laut, setiap hari Dayat juga sering membantu sang bibi membersihkan rumah. Menyapu dan mencuci piring hingga pekerjaan rumah lainnya yang bisa dilakukan, ia lakukan.

Cerita hidup Dayat, rupanya menggerakkan hati anggota Polsek Lea-Lea. Dipimpin langsung Kapolsek Lea-Lea, IPDA La Ode Astar, langsung mengjunjungi gubuk sederhana tempat tinggal Dayat.

La Ode Astar bahkan meminta, generasi mudah di Kecamatan Lea-Lea bisa mencontohi kegigihan seorang Dayat yang tanpa mengeluh dan pekerja keras meski diusianya yang masih sangat dini.

Kapolsek Lea-Lea, IPDA La Ode Astar saat mengunjungi rumah Dayat. Selain bertemu Dayat, La Ode Astar juga menyerahkan paket sembako. Foto: Adhil/suryametro.id

“Diusinya ini, Dayat harusnya lebih mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Bukan harus bekerja keras seperti sekarang. Saat bertemu Dayat, saya cuma titip pesan agar Dayat bisa rajin shalat, jadi anak yang baik sampai dia dewasa nanti. Saya juga sudah sampaikan ke Dayat, kalau misalnya rotinya tidak habis terjual nanti datang ke Polsek. Insya Allah kita akan bantu beli rotinya,” kata La Ode Astar saat berkunjung sekaligus menyerahkan paket sembako untuk Dayat dan keluarga.