Kisah Dua Ibu Penjaga Makam Sultan Murhum dan Obral Gelar Bangsawan Buton

3859
Wa Ampu (78) dan Hasria (46), dua orang penjaga Makam Sultan Murhum. (Foto: Doc. suryametro.id)

Kami tidak mengharapkan imbalan dari menjaga dan merawat makam Sultan Murhum, kami diizinkan untuk dapat menjaga dan merawat kuburan ini juga sudah menjadi kesyukuran buat kami.

Penulis: Muh.Ilor Syamsuddin – suryametro.id

Saat itu gegap gempita menghiasi Negeri Khalifahtul Khamis Darul Butuni atau Tanah Buton saat rombongan pejabat berkumpul di benteng terluas dunia hari ini, Kamis (17/06/2021).

Tari mangaru, menjadi tari penyambutan sebagai ucapan selamat datang dan menjadi sapaan awal bagi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI bersama rombongan Gubernur Sulawesi Tenggara dan pemerintah Kota Baubau saat itu.

Kegiatan kunjungan kerja para pejabat itu, kemudian menjadi salah satu catatan sejarah penting karena beberapa kepentingan politik lahir dan coba dirumuskan dalam kegiatan tersebut.

Pemberian gelar kebangsawanan pun akhirnya diobral layaknya barang yang ada di pasar murah, Ketua DPD RI La Nyala Lataliti diberikan gelar bangsawan Mia Ogena Yi Saragau. Tidak hanya La Nyala, Gubernur Sultra Ali Mazi juga diberi gelar Mia Ogena Bhawaangi yi Sulawesi Tenggara, Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas diberi gelar Mia Ogena Sulaweta Bhawaangi Yi Sulawesi Tenggara dan tidak ketinggalan Sekertaris Jendral (Sekjen) majelis adat nusantara Raden Ayu Rani SS Kusnodidjoyo juga diberi gelar kebangsawanan Waotimomalambu Yi Sara Adhati oleh Perangkat adat Kesultanan Buton.

Pemberian gelar bangsawan tersebut, kemudian disebut-sebut sebagai “Upeti” kepada mereka untuk memuluskan diplomasi politik dan syahwat pemilik kepentingan.

Tidak jauh dari Baruga (tempat penobatan gelar bangsawan), terlihat dua orang Ibu yang setia duduk sembari sesekali membersihkan kotoran di makam yang saat tadi telah dikunjungi oleh rombongan para pejabat itu.

Mereka adalah Wa Ampu (78) dan Hasria (46) yang mengaku penjaga dan perawat makam Sultan Murhum, Sultan pertama yang membawa Islam di Negeri Buton.

Mereka mengaku sudah puluhan tahun menjadi penjaga dan merawat makam Sultan Murhum, bahkan mereka rela mewakafkan hari-hari mereka untuk menjaga kuburan tersebut tanpa pamrih alias gratis tidak digaji.

Bahkan Hasria mengaku, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga kini dia telah berusia 46 tahun, masih terus menjadi penjaga dan merawat makam tersebut.

Alasannya adalah pengabdian, sebab menurutnya makam Sultan Murhum adalah simbol kejayaan bagi Negeri Buton, hampir semua orang yang datang berkunjung ke Benteng Keraton Buton pasti menyempatkan diri untuk mendatangi Kuburan Sultan Murhum.

“Saya sejak SMP dan sampai sekarang berada disini bersama ibu Wa Ampu, kami berdua menjaga dan merawat makam Sultan, tanpa digaji atau berharap ada perhatian dari pemerintah,” ucapnya.

Hal senada juga keluar dari lisan ibu Wa Ampu, nenek empat orang anak yang sejak puluhan tahun juga menjadi penjaga dan merawat makam Sultan Murhum.

Usianya sudah sepuh, namun dialah orang pertama yang selama ini menjadi penjaga dan merawat makam Sultan Murhum.

Dia mengaku bersyukur sebab sepeninggalnya kelak, sudah ada Ibu Hasria yang diyakininya dapat menggantikan posisinya sebagai penjaga dan perawat makam Sultan Murhum.

Puluhan tahun dia menjadi penjaga dan perawat makam, tidak sedikitpun bantuan yang dia terima dari pemerintah.

“Saya bersyukur ada mi yang temani saya “Ibu Hasria”. Kami tidak mengharapkan imbalan dari menjaga dan merawat makam Sultan Murhum, kami diizinkan untuk dapat menjaga dan merawat kuburan ini juga, sudah menjadi kesyukuran buat kami,” ucap nenek Wa Ampu dengan wajah sedikit tersenyum.

Ditengah gegap gempita datangnya rombongan para pejabat itu, sayangnya pemerintah masih tidak peduli dan acuh terhadap mereka. Padahal mereka hanya butuh perhatian bukan gelar- gelar bangsawan.