Kunjungi Kesultanan Buton, LaNyallah Minta Sejarah Tidak Ditinggalkan

85
Kunjungi Kesultanan Buton, LaNyallah Minta Sejarah Tidak Ditinggalkan. (Foto: La Ode Muh. Abiddin)

BAUBAU, suryametro.id – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengisi kunjungan kerjanya di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan mengunjungi Kesultanan Buton di Kota Baubau, Kamis (17/6/2021).

LaNyalla hadir bersama Gubernur Sultra Ali Mazi, Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni, tiga senator asal Sultra yakni Amirul Tamim, Andi Nirwana dan Dewa Putu Seputra, Wagub Sultra Lukman Abunawaz, Walikota Baubau AS Tamrin dan Sekjen Masyarakat Adat Kerajaan.

Dalam sambutannya di Baruga Keraton Buton, LaNyalla meminta sejarah tidak ditinggalkan. Sebab, Indonesia lahir karena peran dan dukungan konkret dari kerajaan dan kesultanan Nusantara.

Menurutnya, para Raja dan Sultan Nusantara telah memberikan kontribusi nyata, baik material maupun non material, untuk lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pada saat BPUPKI dan PPKI bersidang untuk merumuskan persiapan kemerdekaan Indonesia dan merumuskan ideologi bangsa ini, hampir semua raja dan sultan menyumbangkan pikiran dan gagasan mereka,” ungkap LaNyalla.

Ditambahkannya, perumusan ideologi bangsa tentunya juga atas kontribusi para tokoh lainnya, baik dari kalangan pemuka agama, kaum cendekiawan dan kaum pergerakan.

Menurut LaNyalla, gagasan dan pemikiran para raja dan tokoh-tokoh itulah kemudian melahirkan ideologi Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung melalui butir-butir dari lima sila di dalamnya.

“Jadi negara ini jelas dibangun atas dasar sumbangsih pemikiran para pendiri bangsa, yang berpikir luhur dengan nilai-nilai adiluhung dan hati yang bersih, dengan niat dan semangat untuk kebaikan anak cucu di kemudian hari,” tegasnya.

Senator asal Jawa Timur ini mengatakan, Indonesia lahir bukan untuk ambisi kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan.

“Negara ini bukan dibangun oleh Partai Politik. Di mana sekarang Partai Politik justru menjadi sentral penentu kekuasaan. Dan menjelma menjadi satu-satunya saluran bagi calon pemimpin bangsa untuk dapat dipilih oleh rakyat,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak kembali mengingat pernyataan Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

“Bung Karno, sebagai salah satu pendiri bangsa ini dengan tegas mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Karena sejarah menempatkan kelompok masyarakat madani atau civil society sebagai pendiri bangsa ini. Bukan kelompok politik yang bertujuan memiliki kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan tersebut,” paparnya.

LaNyalla sendiri memang sengaja berkeliling ke kerajaan-kerajaan Nusantara. Silaturahmi DPD RI kepada para pemangku kerajaan dan kesultanan Nusantara dilakukan mengingat kerajaan dan kesultanan adalah salah satu tonggak dan pilar pendiri bangsa dan negara ini.

“Karena itu, DPD RI sebagai wakil daerah, terus berkomitmen untuk menyuarakan kepentingan daerah dan stakeholder di daerah, termasuk komunitas adat, yang diwakili oleh kerajaan dan kesultanan Nusantara, sebagai salah satu pemegang saham republik ini, agar mendapat tempat yang layak dalam proses perjalanan bangsa,” jelas LaNyalla.

Mantan Ketua Umum PSSI itu menyatakan DPD RI punya misi dengan terus melakukan kunjungan kerja ke kerajaan dan kesultanan Nusantara di tanah air. LaNyalla menegaskan komitmen DPD RI terhadap eksistensi kerajaan dan kesultanan Nusantara.

“DPD RI berharap dapat membangun sinergi untuk mengembalikan kejayaan Nusantara di era kerajaan dan kesultanan Nusantara berjaya di masa lalu,” katanya.

Salah satu upaya yang akan dilakukan LaNyalla untuk mengembalikan kejayaan Nusantara adalah melalui rencana kegiatan DPD RI mengundang seluruh Raja dan Sultan Nusantara. DPD RI akan menginisiasi pertemuan Raja dan Sultan Nusantara dalam sebuah forum yang akan digelar di Jakarta.

“Forum tersebut guna memberikan rekomendasi kepada negara tentang arah perjalanan bangsa,” ucap LaNyalla.

Sekedar diketahui, tempat pertama yang dikunjungi LaNyalla di Sultra adalah Makam Sultan Murhum, Sultan pertama di Kesultanan Buton. Sultan Murhum, atau Sultan Muhamad Isa Kaimuddin Khalifatul Khamis, adalah sultan yang mengubah Buton menjadi Kesultanan setelah dirinya memeluk Islam.

Makam Sultan Murhum berada di kompleks Masjid Agung Kesultanan Buton, yang ada di dalam benteng Kesultanan Buton.

Makam tersebut banyak dikunjungi oleh peziarah dan sudah menjadi lokasi wisata religi. Makam Sultan Murhum sendiri berada di bawah pohon beringin dengan panjang sekitar 5 meter. Sultan Murhum memang diyakini berbadan tinggi besar dan mempunyai banyak kesaktian.

Untuk mencapai lokasi makam, LaNyalla dan rombongan harus mendaki beberapa anak tangga. Karena Makam Sultan Murhum berada di atas ketinggian.

LaNyalla yang berziarah bersama Gubernur Sultra Ali Mazi, Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas, Walikota Baubau AS Thamrin, Sylviana Murni (Ketua Komite III), dan tiga senator dapil Sultra Amirul Tamim, Andi Nirwana dan Dewa Putu Ardika. Semuanya membaca Yasin dan memanjatkan doa di makam Sultan Murhum.

Dalam kesempatan itu LaNyalla juga mengingatkan agar cagar budaya seperti benteng Keraton Buton tetap dilestarikan.

Pemda setempat diharapkan bisa menggarap tempat tersebut dengan baik sebagai sebuah destinasi wisata.

“Kompleks Benteng Keraton Buton ini sangat luas. Bahkan terluas di dunia. Itu menjadi nilai lebih yang bisa dijual ke para wisatawan. Lokasinya juga indah, berada di atas bukit dan bisa memandang ke arah lautan,” tuturnya.

Penulis : Hariman