Mahasiswa Perikanan Unidayan Kembangkan Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Bioflok di Liabuku

33
Kegiatan budidaya ikan lele berbasis teknologi bioflok di Kelurahan Liabuku oleh mahasiswa Perikanan Unidayan Baubau. Doc. suryametro.id

BAUBAU, suryametro.id – Mahasiswa Universitas Dayanu Iksanuddin (Unidayan) Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), program studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melaksanakan program pengabdian ke masyarakat.

Kegiatan yang digelar sejak Juli hingga November 2022, dipusatkan di Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau dengan tema, pengembangan budidaya ikan lele “Clarias Gariepinus” intensif berbasis teknologi bioflok.

Ikan lele, merupakan komoditas ikan konsumsi air tawar yang mudah dibudidayakan dan memiliki potensi bisnis yang sangat baik. Selain itu, ikan lele memiliki harga yang relatif lebih murah daripada ikan laut.

Namun demikian, peluang usaha budidaya ikan lele ini belum optimal dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan di Kota Baubau.

Selama ini, kelompok pembudidaya masih mempraktekkan budidaya lele secara konvensional di kolam terpal dan kolam tanah dengan kepadatan ikan yang ditebar relatif rendah, yaitu berkisar 100-150 ekor ikan per m3, sehingga hasil produksi masih kecil dan margin keuntungan yang diperoleh relatif rendah.

Menjawab hal tersebut, peserta program pengabdian masyarakat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unidayan dipimpin langsung Sumitro SPi MSi dan Said Saleh Salihi SE Ak MSA, mengajak pembudidaya ikan lele di Kelurahan Liabuku menerapkan teknologi bioflok.

Budidaya ikan lele berbasis teknologi bioflok, memiliki keuntungan sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi sehingga hasil produksi yang diperoleh lebih tinggi,
  2. Teknologi bioflok dapat menjaga kualitas air dalam level yang mendukung pertumbuhan ikan lele,
  3. Bioflok dapat mengkonversi limbah nitrogen hasil metabolisme ikan menjadi flok, dan flok dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan bagi ikan lele.

Untuk mendukung kegiatan praktek, diperlukan bahan dan peralatan yaitu probiotik, sumber karbon berupa tapioka, pakan komersil, ikan lele, kolam terpal, blower dan perlengkapan aerasi.

Kegiatan praktek dimulai dengan penyiapan kolam pemeliharaan ikan lele sistem bioflok. Wadah yang digunakan berupa bak bundar berukuran diameter dua meter dan tinggi 100cm, dengan bahan besi wire-mesh ukuran 7mm yang dilapisi terpal.

Bagian dasar wadah disemen dan dipasang pipa PVC 3 inci untuk saluran air (outlet) yang memudahkan saat panen ikan dan pembuangan endapan flok.

Wadah pemeliharaan berjumlah empat wadah, dilengkapi instalasi aerasi pada setiap wadah. Wadah dibersihkan kemudian diisi air hingga volume air sebanyak 2 M³ dan dilakukan sterilisasi menggunakan klorin dengan dosis 15mg/L, kemudian diaerasi sampai bau klorin menghilang.

Tahap selanjutnya adalah, penyiapan benih dan kultur bioflok. Benih lele yang digunakan memiliki ukuran 5-7cm, benih ikan ditebar dengan kepadatan 750 ekor per M³. Setelah ikan ditebar, dilakukan penumbuhan bakteri flok pada masing-masing unit wadah pemeliharaan ikan.

Probiotik dengan kandungan strain bacillus sp sebanyak 2 gram ditambahkan ke dalam wadah pemeliharaan sebagai inokulan biomassa bakteri.

Setelah penambahan bakteri kedalam wadah budidaya, selanjutnya dilakukan penambahan karbon organik. Sumber karbon yang akan digunakan yaitu tepung tapioka dengan estimasi rasio C/N 10 yang ditambahkan setiap 2 hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan. Perhitungan penambahan karbon mengacu pada metode (Avnimelech, 1999).

Editor: Adhil