Mengenal Tradisi Kacang Jodoh di Wakatobi, Konon Beli Kacang Bisa Dapat Jodoh

222
Tradisi kacang jodoh di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Kerap dijadikan sebagai ajang mencari jodoh di masa lampau. Foto: Doc. suryametro.id

WANGI-WANGI, Suryametro.id – Mendengar nama Wakatobi mungkin tak asing di telinga kita semua, bahwa Wakatobi memiliki pesona laut yang begitu indah dan pernah dijuluki sebagai pusat segitiga karang dunia. Ternyata, Wakatobi tak hanya melulu Soal keindahan alam bawah laut. Wakatobi mempunyai beragam tradisi yang masih terjaga hingga sekarang.

Tradisi kacang jodoh salah satunya, seperti tak lekang oleh waktu, Tradisi ini masih terjaga hingga sekarang. Tradisi kacang jodoh adalah sebuah tradisi dimana sekelompok gadis cantik menjual kacang di pinggiran jalan. Uniknya, moment seperti ini hanya bisa disaksikan pada malam-malam di bulan Suci Ramadhan.

Tradisi menjual kacang jodoh dilakukan pada malam hari setelah shalat Tarawih. Para gadis cantik akan menjajakan jualan kacang di sepanjang pinggiran jalan poros Wandoka, kecamatan Wangi-wangi. Para gadis cantik ini hanya menggunakan meja kecil yang diterangi lampu pelita dan duduk manis menunggu. Mereka akan didatangi oleh pembeli dari berbagai penjuru yang didominasi oleh kaum Adam.

Jualannya sih sederhana, hanya kacang yang disangrai. Dijual dengan harga seribu rupiah perlima butir tetapi kalau sudah saling kenal mengenal dan kepincut rasa saling suka, tempat jualan kacang tersebut bakal menjadi langganan hingga hari raya idul Fitri tiba.

Sebenarnya Tradisi Kacang jodoh bukan seperti namanya bahwa tradisi tersebut diperuntukkan benar-benar untuk mencari jodoh. Meskipun konon ada yang mendapatkan jodoh karenanya, tradisi tersebut lebih kepada ajang silaturahmi. Menurut salah satu warga setempat, kacang jodoh dahulu tidak dilakukan oleh para gadis-gadis melainkan oleh ibu-ibu rumah tangga yang digelar pasca panen. Meskipun tradisi itu kemudian masih dijaga sampai sekarang, pemerannya kini berbeda yakni para gadis cantik.

“Dulu kami jualannya di gala-galampa (teras rumah kayu), bukan cuma jualan kacang di bulan puasa, dibulan bulan lain juga kami menjual tapi jualannya kalau ada acara jogetan,”Ucap Wa Hani (50) warga desa Komala, Minggu (25/04/2021).

Tradisi menujual kacang ini bukan hanya sebatas ajang mencari jodoh atau silaturahmi, Wa Santi (15) mengaku, tradisi ini bisa dimanfaatkan olehnya sebagai lahan mencari pundi-pundi rupiah. Dalam semalam, kacang yang dijual bisa mencapai 2 liter dengan keuntungan bisa mencapai sebesar 50 sampai 100 ribu rupiah permalam.

“Kami gak tau kalau orang lain, kalau kami tujuan kami menjual kacang ini hanya untuk mendapatkan uang lebaran,”ucapnya.

Apapun tujuan dari penjualan kacang ini, Tradisi ini telah dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan kacang jodoh. Jadi bagi para jomblokers yang belum menemukan jodoh, mungkin tradisi ini bisa membantu.

Reporter: Samidin
Editor: Herman Erlangga