Minggu Palma, Umat Katolik Mengarak Yesus Masuk Yerusalem

48
Pada Minggu jelang Paskah, umat Katolik merayakan Minggu Palma. Minggu Palma merupakan pembuka pekan suci atau jelang Yesus didera, wafat dan bangkit. (iStockphoto/Thanabodin Jittrong)

JAKARTA, suryametro.id – Pada Minggu jelang Paskah, umat Katolik merayakan Minggu Palma. Minggu Palma merupakan pembuka pekan suci atau jelang Yesus didera, wafat dan bangkit.

Di perayaan ini, umat Katolik mengenang Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Bak raja, Yesus disambut dengan nyanyian, sorak-sorai dan lambaian daun palem.

Oleh karenanya, perayaan ini disebut Minggu Palma.

“Mereka (orang banyak) mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12: 13).

Pada Minggu Palma, umat Kristiani merayakan masuknya Yesus Kristus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan. Peristiwa itu terjadi seminggu sebelum penyaliban dan kebangkitan Tuhan.

Sebagai keturunan Raja Daud, seharusnya Yesus mengendarai kendaraan yang layak atau kuda yang gagah. Di zaman kiwari, mungkin Yesus sudah naik limosin atau mobil yang atapnya terbuka agar leluasa menyapa warga.

Namun, ia justru mengendarai keledai, seekor kuda mini, tidak gagah dan lekat dengan pekerjaan kasar.

Ternyata ada nilai kesederhanaan yang ingin diajarkan Yesus. Selain itu, seperti dikutip Katolisitas, umat diajak untuk membuka gerbang hati. Yesus pun ingin masuk ke hati umat-Nya, tetapi tentu dalam kondisi gerbang hati yang terbuka.

“Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!” (Mazmur 24: 7)

Salah satu langkah nyata membuka gerbang hati adalah dengan kesediaan untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan lewat penerimaan Sakramen Tobat.

Pun Tuhan kenyataannya memilih keledai, makhluk yang jelas-jelas lemah, bukan kuda yang gagah dan jauh lebih kuat. Seperti halnya Tuhan memilih bersama umat-Nya, yang mau mengakui kelemahan dan mau membuka diri.

Akan tetapi, umat juga diingatkan untuk tidak sombong. Ketika peristiwa perarakan, orang-orang mengelu-elukan Yesus, bukan si keledai.

Sejarah perayaan Minggu Palma
Apa yang bisa diambil? Umat diajak untuk tetap merendahkan diri, jujur bahwa manusia bukan apa-apa, bahkan hanya debu tetapi Tuhan adalah segalanya.

Melansir Christianity, Minggu Palma dimulai di Gereja Yerusalem sekitar akhir abad ketiga. Saat itu, kebaktian terdiri dari nyanyian pujian, doa, dan pembacaan Alkitab saat orang-orang melakukan perjalanan melalui banyak tempat suci di dalam kota.

Di tempat terakhir, tempat kenaikan Yesus ke surga, pelayanan akan membacakan bagian alkitabiah tentang kemenangan Yesus masuk ke Yerusalem.

Tradisi Minggu Palma berlanjut hingga abad keenam dan ketujuh ketika pohon palem mulai digunakan dalam upacara pemberkatan.

Pada abad kedelapan, prosesi pagi menggantikan prosesi malam dan Gereja Barat merayakan apa yang sekarang dikenal sebagai Minggu Palma.

Saat ini, umat Kristen memperingati Minggu Palma untuk mengingat kematian pengorbanan Kristus di kayu salib, memuji Tuhan atas karunia keselamatan, dan menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Banyak gereja, termasuk tradisi Lutheran, Katolik Roma, Metodis, Anglikan, Ortodoks Timur, Moravia, dan Reformasi, mendistribusikan daun palem kepada jemaat pada Minggu Palma untuk perayaan adat.

Dilansir Catholic, cabang-cabang palem dikenal secara luas sebagai simbol perdamaian dan kemenangan.

Sumber: CNNIndonesia.com