OPINI – Teori ”AIR” Thales Dalam Kehidupan

1,801 views
Asdin STP - Mahasiswa Magister agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang

“Sebuah catatan dalam rangka memperingati Hari Filsafat Internasional 19 November 2021”

Berbicara mengenai Teori Air maka kita tidak akan terlepaskan dari seorang Filosof dari Yunani yang bernama Thales. Thales adalah seorang filsuf yang yang lahir antara tahun 624–625 SM dan meninggal sekitar tahun 547–546 SM. Thales sendiri memiliki beberapa buah pemikiran dan salah satu buah pemikiran Thales yaitu mengenai konsep “Air Sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu” dalam buah pemikiranya Thales mengungkapkan bahwa air adalah prinsip dasar (dalam bahasa Yunani arche) segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan.

Bagi Thales, air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada, juga yang akan menyebabkan akhir dari segala yang ada itu. Atau dalam arti kata lain Dunia diawali oleh air dan akan berakhir juga karena air atau dengan perkataan filsuf bahwa air adalah substract (bingkai) dan substansi (isi).

Sebagai dasar dari pemikiran tersebut Thales memberikan argument yang rasional yaitu bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.

Dari hasil pemikiranya tersebut oleh Aristoteles, Thales disebut sebagai sebagai perintis filsafat alam (natural philosophy) karena Thales adalah orang pertama yang mempertanyakan bagaimana terbentuknya alam semesta. Thales dianggap sebagai pendobrak mitos dengan cara menggeser cara berpikir mitosentris menuju logosentris (berbasis ilmu dan logika). Dialah pemikir pertama dalam sejarah filsafat Barat yang membaca gejala alam tanpa menghubungkan dengan dewa-dewa dan lebih memilih pendekatan yang sekarang kita kenal dengan ‘metode ilmiah’. Thales juga dikenal sebagai salah seorang dari Tujuh Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi)

Seiring dengen waktu tentunya Pandangan Thales sudah terbantahkan oleh teori- teori dan juga penelitian para ahli sesudahnya. Namun satu yang perlu kita garis bawahi bersama bahwa Thales sejatinya telah mengajarkan kita suatu kenyataan bahwa air janganlah dianggap sepele, karena air selain memberikan banyak manfaat dalam kehidupan kita namun apabila air tidak dikelola dengan bijak maka tentunya air dapat juga menyebabkan bencana dalam kehidupan kita.

Dewasa ini banyak kita melihat bencana yang terjadi disaat musim hujan seperti banjir, tanah longsor, sungai yang meluap dan bahkan yang terbaru adalah banjir bandang yang terjadi di Malang. Akibat dari musibah ini sudah barang tentu menimbulkan banyak kerugian baik dari segi ekonomi maupun dari segi kesehatan.
Disaat musim kemarau dibanyak wilayah terjadi musibah kekeringan karena banyak mata air yang kering, banyak bendungan yang mengalami penurunan debit air hingga bedungan yang kering sehingga menyebabakan banyak lahan sawah yang tidak mampu dialiri air sehingga lahan padi mengalami fuso akibat kekeringan. Dan tentunya hal ini akan menyebabkan kerugian yang besar bagi para petani.

Agar berbagai musibah ini tidak terjadi maka hendaknya kita dapat mengelola pemanfaatan air dengan baik mulai dari menjaga sumber-sumber air dengan tidak menebang hutan hingga menjaga air tidak tercemar akibat perilaku manusia yang selalu membuang sampah ataupun limbah industri ke sungai. Adapun beberapa langkah kongkrit yang dapat kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan sumber air dianataranya yaitu:

  1. Menjaga Lingkungan
    Dengan tidak membuang sampah disungai, diselokan ataupun dijalanan tentunya sudah akan membantu kelestarian air, sebeb dengan membuang sampah disembarang tempat dapat mencemari air yang menjadi sumber konsumsi mahluk hidup. Selain itu dengan tidak membuang sampah disembarang tempat akan mampu meminimalisir bencana banjir yang diakibatkan karena tertutupnya drainase akibat sampah yang menumpuk.
  2. Mengurangi Penggunaan Air
    Penggunaan air yang tidak bijak atau boros akan menyebabkan kekeringan
  3. Meminimalisir penggunaan bahan kimia dan membuang bahan kimia dengan benar
    Meminimalkan penggunaaan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara yang sangat tepat untuk melindungi perairan global saat ini
  4. Mendaur ulang bahan bekas
    Dengan mendaur ulang barang bekas dapat meminimalisir sampah yang dibuang
  5. Mencegah penebangan pohon secara liar
    Adanya penebangan pohon secara liar akan menyebabkan keringnya mata air dan rusaknya ekosistem disekitarnya
  6. Mengadakan reboisasi hutan
    Dengan adanya reboisasi hutan maka akan membantu mengembalikan sumber-sumber mata air yang telah kering akibat penebanagn pohon secara liar
  7. Menggunaka air sumur secara bijak
    Gunakanlah air sumur secara bijak, sebab jika air bersih yang ada di sumur diambil secara berlebihan maka sumber air tersebut akan berkurang dan kering.

Belajar dari berbagai musibah yang terjadi dan dari teori Thales inilah sejatinya saat ini kita dapat memenfaatkan air secara bijak, karena apabila kita tidak mampu memenfaatkan air dengan bijak maka bukan tidak mungkin pendapat yang menyatakan bahwa” dimasa depan perang bisa saja terjadi karena memperebutkan sumber daya air” bisa terjadi.

 

Penulis: Asdin STPMahasiswa Magister agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang