Pantai Pasir Putih Desa Waha Raya di Wakatobi Jadi Pantai Beton, Bikin Resah Warga

352
Salah satu warga dan kondisi bibir pantai yang dikeluhkan, (foto: Samidin/Suryametro.id)

WANGI-WANGI, suryametro.id – Pantai Waha, dikenal masyarakat luas sebagai daerah yang berpasir eksotis yang indah, kini berubah menjadi pantai berbeton. Hal itu membuat warga setempat resah.

Betapa tidak, pasir yang dahulu menjadi tempat perlindungan bagi perahu nelayan dan pasirnya begitu nampak indah tanpa campur tangan manusia, akhirnya berubah jadi susunan beton dengan tinggi hampir mencapai lima meter.

Keluhan masyarakat datang dari La Bou. Pria paruh baya dengan profesi sebagai nelayan ini, paling merasakan dampak dari pembangunan talut tersebut.

“Kita setengah mati pak, kalau dulunya kita bawah hasil laut masih nyaman kita kasi naik ke darat dengan perahu-perahunya, hari ini sudah paling susah, bahkan sudah ada yang mengeluh karena terjatuh,” keluhnya, Sabtu (04/09/2021).

Tak hanya La Bou, La Upa warga setempat juga mengeluhkan hal yang sama. La Upa mengungkapkan, tanggul tersebut menjadi penghalang nelayan dalam upaya melindungi perahu mereka. Jika sebelumnya mereka bisa membuat perlindungan untuk perahu dengan menaikkannya ke darat, sekarang perahu mereka tak bisa lagi mendapatkan perlindungan karena sulitnya tarik perhau ke daratan.

“Akhirnya, banyak perahu nelayan yang tenggelam karena terhalang sama beton itu kalau kita mau naikkan ke darat saat musim ombak,” tuturnya.

Pembangunan talut dengan nilai kontrak lebih dari 23 Milyar tersebut, pernah dikeluhkan oleh masyarakat setempat dengan melakukan aksi protes. Tak ayal, aksi protes yang dilayangkan hanya berbuah ancaman kepada masyarakat setempat.

Melalui penulusuran media ini, masyarakat mengaku telah beberapa kali mendapatkan ancaman dari sejumlah oknum.

“Katanya kalau kita tidak ikut, bantuan dari pemerintah sudah tidak lagi kita dapat dan ada-ada saja ancamannya,” ucap salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Padahal, masyarakat setempat mengaku tak pernah diberitahu bahwa akan ada pembangunan talut. Setelah pembangunan berjalan baru masyarakat setempat dirembuk untuk menyepakati pembangunan talut dengan panjang 600 meter tersebut.

Selain mengganggu aktivitas nelayan, masalah lingkungan terkait pembangunan talut juga dipertanyakan. Pasalnya, pembangunan dibibir pantai tersebut dinilai mengubah bentuk bibir pantai.

“Proyek tersebut kami nilai sangat tidak memperhatikan dampak dari kerusakan alam yang akan terjadi nantinya. Semisal pengerukan pasir putih di bibir pantai, dimana akan di buatkan beton hal itu jelas menambah dampak buruk bagi kerusakan alam kita yang akan datang,” ucap aktivis Pemerhati Lingkungan, Emen Lahuda.

Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan dokumen lingkungan proyek tersebut. Ia meminta agar pemenang tender proyek dapat menunjukkan dokumen analisis dampak lingkungan kepada masyarakat.

“Tunjukan hasil dari pada AMDAL dari proyek tersebut. Seharusnya ada upaya untuk penambahan timbunan pasir, bukan di gali ataupun mengambil pasirnya. Ini belum ada upaya dari kita semua agar tidak terjadi abrasi malah merusak pesisir pantai dengan cara di keruk dan di gantikan beton,” ungkapnya via WhatsApp, Minggu (6/9/2021).

Pembangunan beton di sepanjang pesisir Waha raya hingga kini masih menjadi polemik. Pasir putih yang dahulunya pernah menjadi kebanggaan pariwisata Wakatobi kini berubah menjadi sebuah susunan beton-beton yang kokoh. Kegunaan dari talut tersebut apakah akan menjadi pelindung atau justru menambah kerusakan lingkungan, hanya Waktu yang bisa menjawabnya.

Reporter: Samidin