Penambang Ilegal Masih Beroperasi di WIUP PT Antam, Ketua Komplit Sultra: Kok Belum Juga Ditindak?

56
PT Antam didesak segera tindak dan tertibkan perusahaan tambang ilegal di dalam WIUP PT Antam di blok Mandiodo, Konawe Utara. Doc. suryametro.id

KONUT, suryametro.id – Polemik blok mandiodo di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra) terkait banyaknya penambang ilegal, masih menimbulkan banyak pertanyaan ditengah-tengah masyarakat.

Apalagi saat ini, di lokasi WIUP PT Antam banyak penambang ilegal yang tidak mengantongi izin langsung dengan PT Antam masih beroperasi dan hingga kini belum juga ditertibkan. Pihak PT Antam juga hingga kini belum memberikan tindakan tegas kepada PT Lawu Agung Mining (LAM), PT Trimegah Pasifik Indonusantara (TPI) dan Aceng Surahman sebagai perusahaan yang disebut sebagai perusahaan tambang ilegal didalam WIUP PT Antam.

Ketua Komunitas Peduli Lingkungan dan Pertambangan Sulawesi Tenggara (Komplit Sultra), Andi Arman mengatakan, sebagai bentuk kekecewaan terhadap PT Antam, warga dari Desa Andowia melakukan aksi pemalangan dan pemberhentian aktivitas tambang di WIUP PT Antam karena berdampak pada rusaknya lingkungan seperti sumber air milik warga.

“Sudah jadi polemik yang perlu segera ditindak, tapi kok sampe saat ini PT Antam belum juga bertindak. Apalagi beberapa waktu lalu Dirut PT Antam, Nicolas D Canter dengan tegas akan melaporkan perusahaan tambang ilegal tersebut ke aparat penegak hukum Sultra,” kata Andi kepada suryametro.id, Selasa (19/04/2022).

“Seharusnya PT Antam harus dengan tegas memberhentikan dan melaporkan PT LAM, PT TPI dan Aceng Surahman karena di duga telah mengaku-ngaku sebagai pemenang tender tunggal pusat di PT Antam. Kami juga sempat mengadakan diskusi dengan salah seorang karyawan mereka yaitu bapak Ruslan sebagai Manager Finance PT Antam Region Sultra, mereka juga tidak membenarkan bahwa PT LAM, PT TPI dan Aceng Surahman terlibat kontrak langsung kepada pihak mereka. Dengan kejadian ini, sama halnya PT Antam telah membiarkan maling masuk rumah mereka sendiri, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seharusnya bisa mentertibkan persoalan tersebut dan malu ketika tidak bisa melaksanakan,” tegas Andi menambahkan.

Atas tindakan tersebut, Komplit Sultra mendesak PT Antam segera memanggil seluruh perusaan tambang yang diduga ilegal tersebut. PT Antam juga diminta segera melaporkan insiden tersebut aparat penegak hukum yang sampai saat ini masih eksis menambang di blok Mandiodo.

Menanggapi tudingan aktivitas tambang ilegal, Humas PT LAM Hendrik mengaku hingga kini kegiatan penambangan PT LAM masih berjalan dengan normal. Bahkan Hendrik dengan tegas mengaku, puluhan alat berat yang pernah disita oleh warga bukan milik PT LAM.

“Sampai saat ini tidak ada masalah, aktivitas kami masih berjalan dengan normal,” kata Hendrik singkat.

Editor: Adhil