MUNA BARAT, suryametro.id – Pj Bupati Muna Barat (Mubar), Dr Bahri turun langsung tinjau kondisi bendungan Laanofoo dan saluran irigasi persawahan di Kecamatan Lawa, Mubar, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (28/06/2023).
Peninjauan itu dilakukan, sebagai tindak lanjut dari banyaknya keluhan petani yang kesulitan mengairi sawah akibat kurangnya pasokan air.
“Persoalan saluran dan bendungan itu yang rusak, akibat pembalakan liar yang menggunakan saluran irigasi. Itulah yang dikeluhkan petani,” ungkapnya.
Bendungan Laanofoo mulai dibangun sejak 2005, namun hingga saat ini belum ada proses perbaikan sehingga berimbas pada produksi sawah yang menurun.
Untuk itu, warga Lawada Jaya khususnya petani sawah merasa kesulitan dengan rusaknya saluran irigasi dan bendungan, yang menyebabkan persawahan kurang dialiri air.
Ketua kelompok harapan Lawada Jaya, Gede Dharma mengatakan, selama ini aspirasi yang disampaikan oleh petani sawah seolah terabaikan, sebab bendungan itu sebelumnya pernah di perbaiki namun dikerjakan secara asal-asalan.
Sehingga selama beberapa tahun ini, petani sawah selalu mengandalkan air sumur bor, air hujan.
“Kunci bersawah itu air, sehingga dengan responsif Pj Bupati Muna Barat ia merasa bersyukur, pengerjaan bendungan maksimal,” ungkap Gede.
Untuk itu Pj Bupati Muna Barat, Bahri respon cepat apa yang menjadi keluhan para petani tersebut yakni memperbaiki bendungan Laanofoo dan irigasi di sekitar persawahan, nantinya akan berimbas pada hasil panen yang meningkat, serta petani tidak mengandalkan lagi sistem tadah air hujan.
Selanjutnya, Ketua Kelompok Makmur, Maryoko turut merasa puas dengan respon cepat PJ Muna Barat Dr Bahri disebabkan dengan adanya perbaikan bendungan hari ini.
PJ Bupati Muna Barat Dr Bahri turun langsung mengecek proyek bendungan dan saluran irigasi dan memerintahkan pihak proyek agar lebih cepat dalam menuntaskan pekerjaan bendungan dan saluran tersebut.
Penjabat Bupati Muna Barat, Bahri mengatakan saat meninjau langsung pekerjaan bendungan tersebut mengatakan, informasi dari warga bahwa penyebab keringnya air di persawahan disebabkan rusaknya bendungan itu, ini terjadi karena pembalakan kayu di hulu.
“Padahal kayu yang dicuri itu dibutuhkan untuk menjaga debit air, sebab mata air dari bendungan Laanofoo merupakan sumber mata air di semua sungai Muna Barat,” ungkapnya.
Selanjutnya, akibat pembalakan kayu itu juga menyebabkan bocornya saluran irigasi, dimana para pembalak kayu yang tidak bertanggung jawab itu tidak memikul kayu curian itu tetapi melewatkan kayu di saluran irigasi, sehingga kayu itu menghantam pinggiran saluran irigasi.
Untuk itu, ia menghimbau agar pembalak kayu jangan menebang hutan secara sembarangan sebab tindakan itu dapat merusak ekosistem hutan dan sumber air.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) La Ode Karimin, mengatakan anggaran pekerjaan bendungan senilai 700 juta dan irigasi diperkirakan 450 juta anggaranya dan akan selesai pada Juli 2023 mendatang,ungkap Karimun.
Penulis: Hidayat Ramadhan