Proses Perbaikan Gaza Pasca Serangan 11 Hari Israel Akan Dimulai Oktober, Ini Rinciannya

19
Warga Jalur Gaza beraktivitas di kawasan yang hancur oleh serangan udara Israel, Juni 2021.(REUTERS/MOHAMMED SALEM via DW INDONESIA)

GAZA, suryametro.id – Tahap pertama dari proses perbaikan telah dimulai di Jalur Gaza, setelah empat bulan serangan mematikan Israel di Gaza Mei lalu. Rencana rekonstruksi ditetapkan oleh kementerian perumahan dan pekerjaan umum Gaza, komite Qatar untuk rekonstruksi Gaza, dan pihak internasional lainnya.

Naji Sarhan, Wakil Sekretaris Kementerian Pekerjaan Umum Gaza, mengatakan beberapa negara telah berjanji untuk berkontribusi pada proses rekonstruksi Gaza dan setuju untuk memulai pekerjaan pada Oktober.

“Qatar menjanjikan 500 juta dolar AS (Rp 7,1 triliun) untuk membangun kembali unit-unit perumahan yang hancur dalam serangan Israel baru-baru ini,” ujarnya kepada Al Jazeera dilansir Sabtu (26/9/2021).

Sementara Mesir juga menjanjikan jumlah bantuan yang sama, dan rencananya akan digunakan untuk infrastruktur dan perbaikan jalan-jalan yang hancur. Serangan 11 hari Israel yang menargetkan struktur dan infrastruktur sipil, menewaskan 256 warga Palestina termasuk 66 anak-anak.

Sekitar 2.000 rumah hancur, di samping 22.000 unit lainnya yang rusak sebagian. Sebagai akibatnya, puluhan ribu warga Palestina harus mengungsi. Setidaknya empat gedung tinggi diratakan, dan 74 bangunan publik menjadi sasaran. Menurut Sarhan, kerugian dalam perang baru-baru ini diperkirakan 497 juta dolar AS (Rp 7 triliun), dengan 600 juta dollar AS (Rp 8,5 triliun) merupakan dampak lanjutan dari perang terakhir.

“Blokade Israel-Mesir selama 14 tahun di jalur itu menimbulkan banyak hambatan pada proses rekonstruksi. Israel melarang bahan bangunan melalui penyeberangan perbatasannya, yang memperburuk keadaan hidup bagi warga Palestina di Gaza,” ujarnya.

Perjanjian rekonstruksi mencakup tiga fase, fase pertama termasuk pembangunan kembali unit perumahan oleh komite Qatar. Rencananya 1000 unit yang hancur akan dibangun kembali, termasuk 800 unit yang mengalami kerusakan parsial. Menurut Sarhan, Mesir akan memulai tahap pertama dalam beberapa hari. Pengaturan masuknya peralatan konstruksi ke Jalur Gaza sedang berlangsung melalui perbatasan Rafah.

Kuwait sebelumnya telah berjanji untuk membangun menara yang dibom dalam serangan terakhir, tetapi perjanjian itu tidak disetujui secara resmi.

“Kami berharap lebih banyak donor untuk bergabung dalam proses rekonstruksi dalam tiga bulan mendatang, termasuk Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Uni Eropa, dan berkontribusi untuk mendukung sektor industri dan pertanian di Gaza,” tambah Sarhan.

Kemungkinan hambatan
Terkait hambatan yang mungkin muncul, Salama Marouf, juru bicara pemerintah Gaza mengklaim telah melalui ancaman dan hambatan yang dilalui para donor.

“Kami menghubungi organisasi donor dan menyepakati jumlah dana. Secara umum, janji meyakinkan bahwa proses rekonstruksi sudah dekat,” ujar Marouf kepada Al Jazeera.

Menurutnya, pihak Israel setuju untuk menghapus pembatasan yang dikenakan pada bahan bangunan masuk ke Gaza, karena perjanjian GRM dibekukan dalam upaya internasional. Mekanisme Rekonstruksi Gaza (GRM) adalah perjanjian sementara yang dibuat oleh PBB dan disepakati antara Otoritas Palestina dan Israel pada September 2014.

Mekanisme ini dirancang untuk mengatasi masalah keamanan Israel sambil memungkinkan masuknya bahan konstruksi (hanya agregat, semen dan batang baja) ke Jalur Gaza untuk digunakan dalam proyek konstruksi.

“Ada banyak bahan yang dilarang masuk ke Gaza, karena mereka diklasifikasikan dalam daftar ‘penggunaan ganda’ dari Israel. Daftar ini telah memasukkan banyak bahan yang diperlukan seperti pompa air, lift, setrika, dan lain-lain,” kata Maruf.

Namun, kendala besar yang dikhawatirkan oleh komite rekonstruksi Gaza adalah penggunaan bahan rekonstruksi oleh Israel, untuk ‘memeras’ warga Palestina di Gaza.

“Ini adalah tantangan utama dengan pengepungan terus menerus yang diberlakukan di Gaza. Israel dapat melarang masuknya bahan bangunan melalui penyeberangannya kapan saja.” “Kami berharap organisasi donor dan semua mitra dapat menjamin masuknya bahan bangunan secara stabil sesuai kesepakatan.”

Siklus ekonomi berhenti
Siklus ekonomi di Gaza menemui jalan buntu, karena sepenuhnya bergantung pada dimulainya proses rekonstruksi.

“Tingkat pengangguran di Gaza di antara kaum muda mencapai 50 persen, dan proses rekonstruksi akan berkontribusi untuk menciptakan peluang kerja, memompa uang dan menciptakan keadaan stabilitas di negara ini,” tambah Marouf.

Dia juga memperingatkan bahwa setiap jeda atau penundaan dalam rencana rekonstruksi akan mengacaukan ketenangan di kawasan itu.

“Jika tekanan terus berlanjut di Gaza, akan ada ledakan (ancaman keamanan) yang akan segera terjadi, yang konsekuensinya akan ditanggung oleh Israel. Situasi di Jalur Gaza tidak bisa terus seperti ini,” tegasnya.

Menurut Marouf, jika semua donor mematuhi komitmennya dan berjalan sesuai rencana, rencana rekonstruksi akan tercapai pada akhir 2022.

Sementara itu, Hosni Muhanna, kepala departemen media di Kotamadya Gaza mengatakan bahwa kotamadya sangat menyambut baik upaya rekonstruksi. Apalagi musim dingin menjadi kondisi berat di Gaza. Infrastruktur di Gaza kata dia, sangat terpengaruh oleh pemboman Israel selama serangan terakhir. Kerusakan besar terjadi pada jalan, saluran pembuangan dan drainase air hujan.

“Kami meminta banyak badan untuk mempercepat rekonstruksi infrastruktur dengan datangnya musim dingin. Situasi saat ini akan menimbulkan risiko besar.”

Musim dingin menurutnya menjadi tantangan utama sekarang. Pasalnya, permukaan air di dataran rendah akan naik, dan ada banyak jalan yang hancur di daerah padat penduduk dan pusat-pusat vital kota.

“Ada ketakutan akan tanah longsor dan infrastruktur runtuh jika rekonstruksi tidak dipercepat. Sampai saat ini, kami belum menerima konfirmasi kapan pekerjaan infrastruktur akan dimulai, tetapi kami berharap dapat segera dimulai,” pungkannya.

Sumber: Kompas.com