Takut Mana, Lebaran Tanpa Baju Baru atau Corona?

82
Ilustrasi

Penulis: Ilor syamsuddin

Kemarin, Selasa 4 Mei 2021, seperti biasa sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dimalam ini.

Istri saya tiba-tiba bergumam. “Honey, ayo ke Lippo Plaza Buton,” ajak Mama Pundu yang kemudian di amini dengan sorakan cukup keras oleh dua anak lelaki kami, Abang Arga dan Raka Langit yang ikut berada dalam mobil.

“Iya… Ayo mi ke Lippo, Pak. Lamanya mi kita tidak main ke Lippo,” kata Abang Arga menimpali yang disambut ajakan Raka Langit untuk bermain mobil-mobilan di Time Zone.

Hati orang tua mana kira-kira yang tidak terpanggil kalau kedua anaknya memelas seperti ini.

Memang, dalam ingatan kami sudah lama kami tidak bermain maupun berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Baubau tersebut.

Yah, pasca virus Covid-19 ini melanda negeri bahkan dunia, kami pun tidak pernah lagi ketempat ini, sehingga mungkin memang kami harus mampir, dalam hati saya.

Sebenarnya saya yakin dan sangat sadar, ajakan ini hanya keinginan besar Mama Pundu yang pastinya ingin berbelanja, apalagi perempuan ku ini, baru selesai gajian dan menerima THR dari kantor tempat saya bekerja. Tapi sudahlah karena ini menjadi momen libur, memang terasa pas sebagai waktu berbelanja kebutuhan lebaran, dalam pikiran saya.

Akses ke tempat perbelanjaan ini memang berada ditengah Kota Baubau, maka tempat ini sangat mudah dicapai oleh segala lapisan masyarakat.

Kepadatannya jangan disangsikan, apalagi di momen menjelang lebaran, tempat ini menjadi favorit setiap lapisan masyarakat untuk berburu pakaian lebaran setelah dimanjakan dengan diskon besar-besaran.

Melihat kondisi banyaknya masyarakat yang berbelanja ini seketika saya melirik sebuah tulisan di media sosial tentang keresahan sebagian masyarakat akan bahaya virus corona dan dampak penyebarannya di pusat perbelanjaan. Sehingga saya coba mengutip sebagian tulisan mereka dan coba merangkum untuk saya membagikannya.

Lanjut cerita, fenomena kepadatan ini, jelas alarm bahaya bagi pemerintah dalam upaya menekan laju penularan Covid-19.

Ketika mudik dilarang dan transportasi nasional bahkan antar propinsi dan kabupaten dibatasi, kepadatan di pusat-pusat perbelanjaan justru luput dari pengawasan.

Dari tahun 2020 hingga detik ini kematian dan sakit akibat virus corona masih terus terjadi bahkan media-media massa sangat masif menginformasikan tentang bahaya virus corona ini.

Yang mengerikan pemberitaan terbaru di India dan beberapa negara yang jumlah kematian dan sakit akibat virus corona semakin meningkat. Capai ratusan ribu pasien covid dalam sehari.

Melihat fenomena ini, ternyata orang-orang lebih takut lebaran tanpa baju baru daripada takut terhadap ganasnya virus corona.

Sepertinya lebaran tak terlihat mengenakan baju baru bakal terasa memalukan. Inilah yang memaksa mereka rela berdesak-desakan meskipun sedang puasa sekalipun.

Butuh konstisensi pemerintah, dengan kebijakan tegas untuk mengatur kebijakan sekian persen orang yang boleh memasuki sebuah toko? juga razia masker yang harus terus digalakkan karena faktanya dari foto dan video tentang kepadatan manusia di banyak masyarakat yang abai memakainya.

Kondisi ramainya tempat-tempat perbelanjaan, tak hanya di Lippo Plaza Buton, bahkan di pasar-pasar lokal baubau tidak juga terkalahkan sehingga masyarakat pembelinya sudah pasti beresiko.

Mungkin tidak ada ledakan kasus baru Covid-19 karena sebagian besar orang-orang itu sudah mulai kebal karena telah divaksin. Tetapi berita dan gambar yang beredar adalah sebuah kampanye buruk. Kalau begitu artinya mobilitas massa saat mudik itu aman?

Maka ketika setelahnya mendapati berita-berita tentang betapa sadisnya virus ini kita berharap agar orang-orang itu tidak saling menularkan virus dan tidak membawanya pulang ke rumah masing-masing. (*)