Taman Fosil Watu Kapala Tosore di Wakatobi, Laut Menjadi Daratan

284
Taman Fosil Watu Kapala Tosore di Wakatobi - Doc: suryametro.id

WANGI-WANGI, suryametro.id – Sebuah situs yang diceritakan sebagai fosil kapal yang karam, lalu jadi batu. Bagian haluan dan buritan, berada di wilayah adat Mandati. Bagian yang disebut Danda atau Tali Sauh kapal dari lambung arah buritan kanan berada di wilayah adat Liya. Danda itu berupa barisan batu-batu tipis, muncul di permukaan tanah, memanjang bak tali, dari buritan ke tenggara. Warnanya kemerahan hingga coklat.

Oleh: Saleh Hanan – Member Ceritakan Wakatobi

Orang Mandati menyebut situs sebagai Watu Kapala atau Batu menyerupai Kapal dan orang Liya menyebut Kapala Tosore. Kapal karam menjadi batu. Namun kisahnya sama kapal karam menjadi batu. Letaknya di padang ilalang, sebuah lembah antara dua bukit, ketinggian. Landscape yang nampak membagi dua Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi.

Sekitar tahun 2007 lalu, di tengah ilalang tempatnya berada, masih dipenuhi fosil Terumbu Karang jari dan aneka kerang yang masih utuh dua belah. Termasuk fosil Kima. Sampai-sampai pada liputan salah satu tivi nasional diperkenalkan pemandu dari TNC WWF sebagai destinasi ‘melihat karang tanpa menyelam’.

Para pejalan kaki meratakannya dikemudian hari. Itu bahtera siapa, kapan karam?

Panjang ceritanya..

Fosil Terumbu Karang, yqng diperkirakan sudah ada sejak ribuan tahun lalu – Doc: suryametro.id

Plato dan Kepulauan Wakatobi

Para arkeolog bawah laut dunia kini, selalu mencari daratan Atlantis. Hilang sekitar tahun 9000 SM. Pencarian berdasarkan fiksi ilmiah Atlantis. Negeri dengan peradaban tinggi, namun tenggelam tanpa daya. Menjadi dasar laut baru hanya dalam satu malam. Ditulis Plato, tahun 360 SM.

Namun puluhan ribu mil dari perairan Malta, Eropa, kordinat pencarian itu, terdapat Kepulauan Tukang Besi, Wakatobi. Kepulauan yang muncul.

Proses endogen, pergerakan lempeng bumi membuat dasar laut naik. Disusul proses eksogen. Angin, ombak, arus, menyusun koloni terumbu karang di tepi batu yang muncul. Proses endogen makin mengangkat komposisi itu menjadi pulau-pulau. Habitat koloni mengering.

Terjadi pada jaman tersier hingga akhir jaman miosen, jutaan tahun lalu. Beda dari tektonik escape yang menciptakan sesar-sesar, belahan-belahan. Perbedaan flora dan fauna pulau terdekat, misalnya Pulau Buton, mengkonfirmasi ini.

Drama geologis itu dapat dilihat pada situs Watu Kapala Tosore. Bukit batu yang dipandang turun-temurun sebagai fosil kapal karam. Berada di tengah ribuan fosil karang dan kerang, di padang rumput dataran rendah antara perbukitan Wungka dan Liya, Pulau Wangi-Wangi.

Jika Watu Kapala Tosore benar-benar fosil kapal, itu kejadian jutaan tahun lalu berarti. Sesuai teori fosil juga. Pelabuhan di kiri atau kanan adalah alasan kapal itu memasuki selat. Peradaban pelabuhan yang pasti lebih tua dari Portus, pelabuhan moderen Romawi Kuno. Tahun 70 SM.

Pulau-pulau ini begitu kecil dan dikelilingi laut dalam. Tempat jalan yang lebih ideal dibanding melewati selat tanpa alasan. Kemungkinan lain, berlindung dari badai. Lalu terjebak proses eksogen, yang menebalkan pulau.

Jika ekosistem padang rumput Watu Kapala Tosore dulu adalah laut, sudah pasti Wakatobi adalah pulau-pulau yang muncul. Kebalikan dari Atlantis yang tenggelam.
Jika saja Plato mengetahuinya, niscaya, mungkin, akan ada dua cerita? Tentang tragedi tenggelamnya Atlantis, dan suka cita munculnya Wakatobi. Duh, jangan biarkan ia tenggelam.