Tidak Terpengaruh Tekanan Global, Kondisi Ekonomi Kota Baubau Berangsur Tumbuh Membaik

99 views
Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse dalam kegiatan focus group discussion progres fiscal APBN dan indikator pertumbuhan ekonomi regional di wilayah Kepulauan Buton, Selasa (14/2/2023) di villa nirwana Kota Baubau.

BAUBAU, suryametro.id – Di penghujung tahun 2022 lalu, kondisi perekonomian nasional maupun Kabupaten/Kota se- Kepulauan Buton khususnya Kota Baubau, menunjukkan kondisi yang penuh optimisme walaupun tetap waspada.

Hal ini membuktikan bahwa, kinerja APBN maupun APBD telah berhasil menjaga masyarakat dan perekonomian dalam menghadapi guncangan dan ketidakpastian akibat tekanan geo ekonomi dan geo politik dunia yang berimbas pada negara Indonesia.

Demikian dikatakan Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse, saat membuka kegiatan focus group discussion progres fiscal APBN dan indikator pertumbuhan ekonomi regional di wilayah Kepulauan Buton Selasa (14/2/2023) di villa nirwana Kota Baubau.

Menurut Wali Kota Baubau, keberhasilan pemulihan ekonomi di Kota Baubau tahun 2022 terlihat dari penurunan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) dari semula 6,87 % pada bulan Agustus 2021 menjadi 5,39% pada bulan Agustus tahun 2022. Demikian juga untuk tingkat kemiskinan di Kota Baubau, juga menurun dari semula sebanyak 13,3 ribu jiwa (7,78 %) pada Agustus 2021 menjadi 12,69 ribu jiwa (7,31%) pada bulan Agustus 2022.

Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse dalam kegiatan focus group discussion progres fiscal APBN dan indikator pertumbuhan ekonomi regional di wilayah Kepulauan Buton, Selasa (14/2/2023) di villa nirwana Kota Baubau.

Beberapa indikator lain yang menunjukkan keberhasilan capaian pembangunan daerah di Kota Baubau sebagai pintu gerbang kabupaten/kota di wilayah kepulauan Buton adalah peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) selama 5 tahun terakhir dengan posisi tahun 2022 sebesar 76,26. Indicator Gini ratio cenderung membaik dengan posisi 0,443, pasca pandemic COVID.

Sementara untuk progres realisasi APBD Kota Baubau tahun anggaran 2022 menunjukkan kinerja yang optimal dengan capaian pendapatan daerah sebesar 98,96 % atau sebesar Rp. 892,07 milyar. Hal tersebut masih didominasi oleh pendapatan transfer dari pusat meskipun dari sektor pendapatan asli daerah makin menunjukkan pertumbuhan yang cukup positif dari tahun ke tahun. Sedangkan dari sisi belanja APBD berhasil direalisasikan sebesar 85,97% atau sebesar Rp 958,9 milyar yang sebagian besar berasal dari kontribusi belanja operasi dan belanja modal-infrastruktur. Hal ini tentunya sejalan dengan implementasi UU HKPD agar kebijakan transfer diarahkan pada peningkatan kualitas layanan publik dan pemerataan ekonomi daerah dengan meningkatkan sinergi kebijakan fiskal dan harmonisasi belanja pusat dan daerah.

Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse (kiri) dalam kegiatan focus group discussion progres fiscal APBN dan indikator pertumbuhan ekonomi regional di wilayah Kepulauan Buton, Selasa (14/2/2023) di villa nirwana Kota Baubau.

Dikatakan, perekonomian regional Kota Baubau dan daerah se- Kepulauan Buton diprediksi masih akan optimis pada tahun 2023 dengan mengusung pembangunan yang fokus pada sustainable growth demi menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan, inklusif, dan berwawasan lingkungan, salah satunya diwujudkan melalui pengembangan sektor UMKM dan pariwisata yang selalu mengedepankan aspek keberlanjutan.

”Dengan mencermati pengalaman dan dinamika perekonomian tahun 2020 hingga 2022 lalu, kita optimis bahwa ekonomi wilayah Kepulauan Buton akan tumbuh ter- akselerasi dibandingkan tahun sebelumnya yang didukung oleh solid-nya pembanguna infrastruktur, kinerja ekspor dan investasi yang terus berlangsung, serta konsumsi masyarakat yang tetap tumbuh tinggi,” katanya.

Ditambahkan, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kondusif pada tahun 2023 maka tetap perlu dilakukan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Hal tersebut sebagai antisipasi tahun 2023 yang masih akan menghadapi ketidakpastian perekonomian global yang dapat berdampak pada inflasi yang mana berpotensi mengurangi daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tetap optimis bahwa stabilitas pekonomian akan tetap terjaga dan proses pemulihan perekonomian terus meningkat melalui sinergi yang baik antara pemerintah perbankan, dunia usaha, akademisi, media, dan berbagai pihak. Kita juga perlu waspada akan kemungkinan gejolak dunia masih akan berlangsung lama, dengan segala dampak hambatan negatifnya terhadap kinerja perekonomian nasional maupun daerah,” tutupnya. (Adv)