OPINI – Dari Hulu ke Hilir Menekan Inflasi Pangan dan Gizi

Penanganan inflasi tidak boleh di lakukan secara parsial tetapi harus bersama di tingkat nasional, provinsi, kota dan kabupaten, apalagi menghadapi kasus kesehatan di penjuru dunia yang masih menjadi wacana terhangat adalah Stunting.

Oleh: La Ode Abdul Malik Maulana / Akademisi

Kita telah mengetahui penting bagi sebuah negara dalam menentukan seorang pemimpin dan arah kebijakan yang akan di ambil dalam menangani inflasi Pangan dan Gizi dalam menekan angka Stunting agar menurun.

Namun seringkali pemerintah hanya mengandalkan peran di bawahnya saja dalam bertindak tetapi kurangnya pengawasan yang ekstra dalam menangani harga pangan dan bantuan pangan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk melengkapi gizi seimbang pada anak yang terkena stunting.

Mengutip pernyataan Asisten III Setda Kota Baubau dalam hal ini mewakili PJ Walikota Baubau, memberikan sambutan pada Bintek Kader Pembangunan Manusia (KPM) pada beberapa waktu lalu bahwa dari data Survei Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi Stunting di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 21,6%.

Untuk prevalensi Stunting di Kota Baubau pada angka 26% masih berada di bawah prevalensi Stunting Provinsi Sulawesi Tenggara yakni 27,7%.

Dari angka tersebut, maka intervensi program dan kegiatan dalam upaya penurunan Stunting harus tetap di jalankan secara berkelanjutan sampai ke tingkat kelompok masyarakat di bawah menengah agar kasus tersebut bisa turun sesuai target Indonesia Emas hingga 14% kalau perlu dibawah standar tersebut.

Ini harus menjadi perhatian bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Baubau agar bekerja keras lagi dalam menangani kasus Stunting ini dengan menyalurkan bantuan dari Hulu ke Hilir secara merata dan benar-benar sampai kepada masyarakat yang terkena kasus Stunting ini.

Perlu adanya kolaborasi dari intansi terkait, dalam hal ini Dinas Kesehatan, BKKBN, KUA, Puskemas dan perangkat kelurahan / desa dalam mengawasi dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada muda mudi yang akan melangsungkan pernikahan, agar sekiranya di sela-sela kursus pra-nikah ada terselip penekanan mewajibkan untuk memeriksakan kesehatan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan bagi calon wanitanya agar mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) atau Multiple Micronutrient Supplement (MMS) sedari remaja, agar pemenuhan Vitamin A dapat terpenuhi untuk mencegah anemia disaat haid, dan mencegah terjadinya Stunting jika melahirkan nanti.

Kerawanan Pangan dan Gizi menjadi masalah serius yang di akibatkan oleh inflasi. Apalagi menjelang tahun politik, fokus pemerataan bantuan akan terpecah oleh kampanye-kampanye politik, dan penanganan kerawanan gizi seringkali terabaikan.

Akibatnya, masyakarat yang seharusnya mendapatkan perhatian kesehatan yang optimal justru terpinggirkan. Selain itu, pangan lokal juga seringkali terpinggirkan dalam konteks inflasi di pemilu itu sendiri. Padahal, pangan lokal sangat memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan seringkali promosi dan pengembangan pangan lokal kalah saing dengan kampanye-kampanye pangan impor yang lebih besar dan menarik perhatian.

Maka dari itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk tetap memperhatikan isu-isu kesehatan seperti Stunting, pangan lokal dan kerawanan gizi. Serta diperlukan sinergi Pemerintah Kota untuk menjaga kearifan lokal khususnya pangan-pangan lokal untuk dikembangkan lagi ke seluruh daerah Pulau Buton khususnya dan ke seluruh pelosok tanah dan air dan luar negeri pada umumnya. (Adm)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top