Foto bersama Kodim 1413 Buton, forkopimda serta peserta upacara usai kegiatan upacara penutupan TMMD ke 129 di Kabupaten Buton. Ist

Dari Meja Koordinasi, Pembangunan Desa Mulai Disiapkan

Pembangunan desa melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Buton tidak dimulai ketika prajurit turun ke lapangan. Jauh sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Buton bersama Kodim 1413/Buton telah melakukan serangkaian koordinasi untuk memastikan program pembangunan yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Salah satu tahapan awal berlangsung pada 3 Juni 2026 melalui rapat koordinasi pelaksanaan TMMD ke-129 di Makodim 1413/Buton. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Bupati Buton Syarifudin Saafa bersama Sekretaris Daerah dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah teknis. Forum tersebut menjadi ruang untuk menyinkronkan kebutuhan pembangunan, dukungan pemerintah daerah, serta sasaran fisik dan nonfisik yang akan dikerjakan.

Pemda Buton dipimpin Wakil Bupati Buton, Syarifudin Saafa bertemu jajaran Kodim 1413 Buton bahas persiapan TMMD ke 129. Ist

Dalam koordinasi tersebut, persoalan infrastruktur Desa Labuandiri, Kecamatan Siotapina, menjadi salah satu perhatian. Perbaikan jalan dan drainase yang sebelumnya telah menjadi kebutuhan masyarakat diarahkan masuk dalam sasaran TMMD. Dengan pola kerja bersama TNI, pemerintah daerah dan masyarakat, pekerjaan yang membutuhkan penanganan diharapkan dapat dipercepat.

Komitmen tersebut kemudian diperkuat dalam rapat paparan kesiapan pelaksanaan TMMD di Makodam XIV/Hasanuddin, Makassar, pada 18 Juni 2026. Pemerintah Kabupaten Buton menegaskan bahwa TMMD merupakan program lintas sektoral yang tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.

15 Juli 2026, TMMD Resmi Dibuka di Ambuau Indah

Komando Distrik Militer (Kodim) 1413 Buton, menyelenggarakan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 129 tahun 2026 yang diselenggarakan di wilayah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kegiatan TMMD yang diselenggarakan tersebut, dimulai sejak 15 Juli sampai dengan 13 Agustus 2026. Dengan sasaran fisik dan non fisik.

Pemerintah Kabupaten Buton menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan TNI dalam mempercepat pembangunan desa melalui pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026.

Program yang menggabungkan kegiatan fisik dan nonfisik tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Bupati Buton, Alvin Akawijaya secara resmi membuka kegiatan TMMD Kodim 1413 Buton ke 129. Ist

Komitmen itu disampaikan Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, saat memimpin Upacara Pembukaan TMMD ke-129 yang digelar Kodim 1413/Buton di Lapangan Sepak Bola Ambuau Indah, Desa Ambuau Indah, Kecamatan Lasalimu Selatan, Rabu, 15 Juli 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus secara resmi membuka pelaksanaan TMMD.

Buton mengapresiasi jajaran TNI, khususnya Danrem 143/Halu Oleo dan Kodim 1413/Buton, atas pelaksanaan TMMD di Kabupaten Buton. Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk sinergi TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun wilayah pedesaan serta untuk mempercepat pembangunan melalui sasaran fisik maupun nonfisik.

“Program TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kebersamaan, dan kemanunggalan antara TNI dengan rakyat. Pemerintah Kabupaten Buton akan terus mendukung program-program pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Alvin.

Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri Danrem 143/Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto, S.I.P., M.Han., Dandim 1413/Buton Letkol Inf. Yoni, S.Hub.Int., unsur Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, para Danramil, Perwira Staf Kodim 1413/Buton, para Kapolsek, camat, kepala desa, personel TNI-Polri, pelajar, serta masyarakat.

Komandan Kodim 1413/Buton, Letkol Inf. Yoni, mengatakan TMMD merupakan bentuk nyata pengabdian TNI kepada masyarakat. Dandim menegaskan seluruh kegiatan diarahkan agar hasil pembangunan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.

“Melalui TMMD ke-129 ini, kami ingin menghadirkan hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Danrem 143/Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto, menilai sinergi antara Pemerintah Kabupaten Buton dan TNI menjadi kunci percepatan pembangunan daerah. Menurutnya, TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga kegiatan nonfisik yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui program TMMD, kita bersama-sama membangun bersama masyarakat dengan dua sasaran utama, yakni pembangunan fisik dan nonfisik,” ujar Danrem.

Program TMMD ke-129 mengusung tema ‘TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa’ sebagai wujud komitmen mempercepat pembangunan kawasan pedesaan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui semangat gotong royong.

Jalan dan Drainase Menjadi Bagian Penting Pembangunan

Setelah pembukaan, Satgas TMMD mulai bergerak mengerjakan sejumlah sasaran fisik. Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah Desa Labuandiri, Kecamatan Siotapina.

Pada 24–26 Juli 2026, pekerjaan rehabilitasi jalan di wilayah tersebut memasuki tahap pembentukan dan penyempurnaan badan jalan. Satgas menggunakan excavator dan dump truck untuk menata material, meratakan jalur dan memperkuat struktur badan jalan. Kehadiran alat berat digunakan untuk mempercepat pekerjaan, sementara personel Satgas tetap melakukan pengawasan terhadap proses konstruksi.

Perbaikan jalan tersebut memiliki arti penting bagi aktivitas masyarakat. Jalan desa bukan hanya menjadi jalur mobilitas warga, tetapi juga berkaitan dengan distribusi hasil pertanian dan perkebunan. Karena itu, peningkatan kualitas jalan diharapkan dapat memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.

Di Desa Ambuau Indah, pembangunan drainase juga dikerjakan secara bertahap. Pada akhir Juli, personel TNI bersama warga terlihat melakukan proses pengecoran dan menyiapkan segmen berikutnya. Pola pengerjaan secara berkesinambungan diterapkan agar pekerjaan dapat terus bergerak tanpa mengabaikan kualitas konstruksi.

Pekerjaan drainase kemudian berlanjut di Desa Labuandiri. Pada awal Agustus, Satgas bersama masyarakat mempercepat pemasangan bekisting dan pengecoran saluran. Pekerjaan ini menjadi bagian dari upaya mengatasi kebutuhan infrastruktur dasar sekaligus mendukung mobilitas dan aktivitas warga.

Talud Jalan di Mopaano, Infrastruktur untuk Keselamatan Warga

Sasaran fisik lainnya berada di Desa Mopaano, Kecamatan Lasalimu Selatan. Di lokasi tersebut, Satgas TMMD mengerjakan talud jalan yang berfungsi memperkuat badan jalan dan mengurangi risiko erosi.

Pada 23 Juli 2026, personel Satgas melakukan penyusunan batu sebagai material penguat konstruksi. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bertahap dan mengutamakan ketelitian agar talud mampu menopang badan jalan dengan baik.

Talud salah satu sasaran fisik berada di Desa Mopaano, Kecamatan Lasalimu Selatan. Ist

Bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalur tersebut, talud bukan sekadar bangunan pelengkap. Infrastruktur tersebut berkaitan dengan keamanan jalan, terutama ketika kondisi cuaca dan aliran air berpotensi menyebabkan erosi.

Pembangunan talud sekaligus menunjukkan karakter TMMD yang mengarahkan sasaran pembangunan pada kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Rumah Layak Huni dan Sanitasi Menyentuh Kebutuhan Dasar

Pembangunan infrastruktur TMMD ke-129 juga menyentuh kebutuhan dasar rumah dan sanitasi masyarakat.

Di Desa Ambuau Indah, Satgas mulai mengerjakan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Tahap awal pembangunan dimulai dari pekerjaan pondasi pada 21 Juli 2026. Pekerjaan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kelayakan tempat tinggal masyarakat penerima manfaat.

Sementara itu, pembangunan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) memasuki tahap finishing pada 28 Juli. Personel Satgas mengerjakan plesteran dan perapian dinding sebelum bangunan diselesaikan.

Dua pekan kemudian, fasilitas MCK tersebut dilaporkan telah selesai. Pada 12 Agustus 2026, bangunan sanitasi dinyatakan tuntas dan siap dimanfaatkan warga. Pembangunan tersebut memperlihatkan bahwa sasaran TMMD tidak selalu berbentuk proyek infrastruktur besar. Fasilitas dasar yang langsung digunakan masyarakat juga menjadi bagian penting dari program pembangunan desa.

Wasev Memastikan Pekerjaan Berjalan Sesuai Sasaran

Pengawasan dan evaluasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan TMMD. Pada 30 Juli 2026, Tim Pengawasan dan Evaluasi dari Inspektorat Jenderal TNI Angkatan Darat melakukan kunjungan ke Kabupaten Buton.

Tim dipimpin Kolonel Inf Marthen Pasunda dan melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Buton sebelum turun langsung ke sejumlah lokasi sasaran. Peninjauan dilakukan di Desa Labuandiri, termasuk jalan penghubung Labuandiri–Sumber Sari, kemudian dilanjutkan ke Desa Mopaano dan Ambuau Indah.

Dalam evaluasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Buton menyampaikan bahwa dukungan terhadap TMMD mencakup pembangunan jalan, drainase, talud, MCK, sarana air bersih dan rehabilitasi rumah tidak layak huni. Sementara sasaran nonfisik meliputi penyuluhan wawasan kebangsaan, keamanan dan ketertiban masyarakat, kesehatan, pertanian hingga sosialisasi rekrutmen TNI.

Tim Wasev dari Mabes TNI meninjau langsung progres kegiatan TMMD ke 129 Kodim 1413 Buton di Kabupaten Buton. Ist

Tim Wasev juga menyoroti kebutuhan infrastruktur di kawasan pesisir Kabupaten Buton. Salah satu perhatian yang disampaikan adalah kebutuhan jembatan penghubung yang dapat menunjang mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor perikanan dan pertanian.

Evaluasi tersebut memperlihatkan bahwa TMMD tidak hanya menjadi program pembangunan jangka pendek. Pendataan kebutuhan masyarakat dan verifikasi usulan menjadi bagian penting agar pembangunan berikutnya dapat diarahkan pada persoalan yang benar-benar dirasakan warga.

Pembangunan Nonfisik: Membangun Pengetahuan dan Kesadaran

Di tengah pengerjaan jalan, drainase, talud, rumah dan fasilitas sanitasi, Satgas TMMD juga melaksanakan kegiatan nonfisik.

Pada 10 Agustus 2026, masyarakat Desa Ambuau Indah mengikuti penyuluhan pertanian. Materi diarahkan pada peningkatan pengetahuan warga mengenai pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman dan penerapan teknik pertanian sesuai kondisi wilayah. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog untuk membicarakan persoalan yang dihadapi masyarakat dalam mengembangkan usaha pertanian.

Sehari kemudian, 11 Agustus, kegiatan berlanjut dengan penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas. Masyarakat diajak memahami bahwa keamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga.

Dalam rangkaian program TMMD, kegiatan nonfisik juga mencakup penyuluhan hukum, wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, kesehatan, pertanian, perikanan, peternakan, penggunaan media sosial, serta edukasi mengenai stunting, Posyandu dan Posbindu penyakit tidak menular.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan desa ditempatkan dalam dua dimensi sekaligus: membangun sarana yang dapat digunakan masyarakat dan membangun kemampuan masyarakat untuk mengelola kehidupan sosial-ekonominya.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama

Salah satu benang merah yang muncul dalam hampir seluruh pemberitaan TMMD ke-129 Kodim 1413/Buton adalah keterlibatan masyarakat.

Prajurit Satgas tidak bekerja sendiri. Dalam sejumlah pekerjaan, warga ikut mengangkut material, membantu proses pengecoran, mempersiapkan lokasi pekerjaan dan mendukung berbagai kegiatan yang berlangsung di desa.

Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, saat meninjau lokasi TMMD pada 8 Agustus 2026, mendorong agar semangat gotong royong terus dipertahankan. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk ikut mengawasi pekerjaan serta menjaga fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Pesan tersebut menjadi penting karena keberhasilan sebuah program pembangunan tidak berhenti pada saat proyek dinyatakan selesai. Infrastruktur yang telah dibangun membutuhkan pemeliharaan dan rasa memiliki dari masyarakat sebagai pengguna langsung.

Tiga Puluh Hari Pengabdian Berakhir di Ambuau Indah

Setelah berlangsung kurang lebih 30 hari, pelaksanaan TMMD ke-129 Kodim 1413/Buton resmi ditutup pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Upacara penutupan kembali dipusatkan di Lapangan Sepak Bola Ambuau Indah. Danrem 143/Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto bertindak sebagai inspektur upacara. Hadir Bupati Buton, Wakil Bupati Buton, Dandim 1413/Buton, unsur Forkopimda, pemerintah daerah, TNI-Polri, pelajar, Pramuka dan masyarakat.

Foto bersama usai kegiatan upacara penutupan TMMD ke 129 di Kabupaten Buton. Ist

Dalam rangkaian penutupan, dilaporkan berbagai sasaran fisik TMMD telah diselesaikan. Namun, angka yang disampaikan dalam laporan penutupan—antara lain pembukaan jalan tani 1.568 meter, jalan talud 3.166 meter, 10 unit dekker, pengerasan dan pelebaran jalan 5.200 meter, dua jembatan, galian parit 600 meter, rehabilitasi jalan 309 meter dan drainase 309 meter—merupakan capaian TMMD pada tiga kabupaten dalam wilayah Kodam XIV/Hasanuddin, sehingga tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai capaian khusus Kabupaten Buton. Demikian pula angka program unggulan TNI AD Manunggal Air berupa 15 titik sumur bor, 17 RTLH dan 12 MCK merupakan angka agregat yang disampaikan dalam konteks tiga kabupaten.

Karena itu, untuk membaca capaian TMMD di Buton secara akurat, angka agregat tersebut perlu dibedakan dari sasaran yang secara spesifik diberitakan berada di Kabupaten Buton, seperti rehabilitasi jalan dan drainase Labuandiri, talud Mopaano, drainase Ambuau Indah, RTLH dan MCK di Ambuau Indah, serta berbagai kegiatan penyuluhan masyarakat.

Bukan Sekadar Infrastruktur, tetapi Jejak Pengabdian

Penutupan TMMD ke-129 tidak serta-merta mengakhiri cerita pembangunan di desa. Justru setelah Satgas meninggalkan lokasi, hasil pekerjaan tersebut memasuki tahap yang tidak kalah penting: dimanfaatkan, dirawat dan dijaga oleh masyarakat.

Selama satu bulan, pemberitaan mengenai TMMD ke-129 Kodim 1413/Buton memperlihatkan satu pola yang konsisten. Pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Jalan diperbaiki untuk memperlancar mobilitas, drainase dibangun untuk mendukung infrastruktur dasar, talud diperkuat untuk menjaga badan jalan, rumah diperbaiki agar lebih layak, MCK dibangun untuk memenuhi kebutuhan sanitasi, sementara penyuluhan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Dari perspektif pembangunan daerah, TMMD menjadi titik temu antara kebutuhan masyarakat, dukungan pemerintah daerah dan kemampuan TNI dalam menggerakkan personel serta sumber daya di lapangan.

Pada akhirnya, nilai sebuah program pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dikerjakan atau jumlah fasilitas yang dibangun. Ukurannya juga terletak pada apakah fasilitas tersebut benar-benar digunakan, dipelihara dan mampu meningkatkan aktivitas masyarakat setelah program berakhir.

Di Ambuau Indah, Labuandiri, Mopaano dan wilayah sasaran lainnya di Kabupaten Buton, TMMD ke-129 meninggalkan lebih dari sekadar hasil pekerjaan fisik. Ia meninggalkan pengalaman gotong royong, hubungan sosial antara prajurit dan masyarakat, serta sejumlah infrastruktur yang diharapkan menjadi bagian dari perjalanan pembangunan desa.

Tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa” pada akhirnya menemukan maknanya dalam proses tersebut: pembangunan bukan pekerjaan satu pihak, melainkan hasil dari pertemuan kebutuhan masyarakat, kebijakan pemerintah, kemampuan pelaksana dan partisipasi warga.

Satgas boleh kembali setelah masa tugas selesai. Namun jalan, drainase, talud, rumah, fasilitas sanitasi, pengetahuan dan semangat gotong royong yang ditinggalkan diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Buton.

Catatan editorial penting: saya sengaja tidak memasukkan angka capaian 1.568 meter, 3.166 meter, 5.200 meter, 15 sumur bor, 17 RTLH, dan 12 MCK sebagai capaian khusus Kodim 1413/Buton. Sumber penutupan menyatakan angka tersebut sebagai capaian TMMD pada tiga kabupaten, sehingga secara jurnalistik lebih aman menyebutnya sebagai capaian agregat dan hanya mengaitkan dengan Buton sasaran yang memang disebut spesifik oleh pemberitaan.

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *